apijiwa.id – “Bhinneka Tunggal Ika – Tan Hana Dharma Mangrwa” bukan sekadar semboyan yang tercengkeram pada kaki burung Garuda. Slogan legendaris ini merupakan warisan dari Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14. Lahir di era kejayaan Majapahit, kalimat tersebut menjadi bukti nyata bahwa toleransi beragama telah menjadi akar budaya bangsa Indonesia sejak lama.
Tokoh masyarakat sekaligus pemerhati budaya Kabupaten Semarang, Noor Hayati, menjelaskan bahwa semboyan tersebut mengandung semangat hidup berdampingan di tengah kemajemukan. Menurutnya, Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah pernyataan sikap untuk menjadikan perbedaan sebagai instrumen harmoni dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Kakawin Sutasoma dikutip oleh para pendiri bangsa dalam merumuskan semboyan negara. Petikan aslinya ada pada Pupuh 139 bait 5, yang berbunyi: Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa,” terang Noor Hayati yang juga merupakan guru SMK di Ambarawa ini.
Arti dari petikan tersebut menegaskan bahwa meski Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan dua zat yang berbeda, namun kebenaran keduanya adalah tunggal. “Terpecah-belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran,” tambahnya.
Wujud nyata di Lingkungan Sanggrahan nilai-nilai luhur tersebut tidak hanya berhenti di atas kertas. Noor Hayati mencontohkan bagaimana masyarakat di RW 02 Sanggrahan, Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, mempraktikkan toleransi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Saat hari Minggu umat Nasrani beribadah di gereja, warga lainnya tetap bergandengan tangan menyemai cinta kasih. Pada peringatan hari besar keagamaan apa pun, masyarakat Sanggrahan tetap sayuk rukun (hidup rukun) dan saling memberikan ucapan selamat,” ungkapnya.
Kerukunan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bukti bahwa perbedaan justru mempererat kekompakan warga. Baginya, keharmonisan di tingkat akar rumput adalah fondasi utama demi tegaknya NKRI.













