Advertisement

apijiwa.id – Orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka dengan sebaik-baiknya. Anak adalah amanah yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh agar kelak tumbuh menjadi sosok yang saleh, berilmu, taat beribadah, serta menjadi ahli Al-Qur’an. Sebab, anak yang saleh merupakan tabungan pahala yang tak terputus bagi orang tua di akhirat kelak.

Pesan tersebut disampaikan oleh Iptu Supardi, S.H., pendiri komunitas Jumat Bersedekah (JB) Indonesia, dalam tausiyahnya pada acara Haflah Akhirussanah dan Wisuda ke-27 Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al-Barokah, Desa Bugel, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Minggu (5/4/2026) sore.

“Oleh karena itu, kita harus mendidik anak-anak agar tertib dalam menjalankan salat dan mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Akan lebih utama lagi jika anak dididik untuk menghafal Al-Qur’an,” tutur polisi yang akrab disapa Ndan JB itu.

Ia menambahkan, salah satu cara termudah untuk membentuk karakter religius anak adalah dengan menitipkan mereka di lembaga pendidikan keagamaan. Dimulai dengan memasukkan anak ke TPQ, kemudian dilanjutkan ke Madrasah Diniyah. Hal ini bertujuan agar anak terbiasa dengan iklim kehidupan yang agamis serta memiliki pemahaman agama yang mendalam sejak dini.

Polisi yang bertugas di Polres Grobogan ini juga mengingatkan bahwa peran orang tua tidak tergantikan sebagai guru utama bagi anak-anak mereka. Lingkungan rumah harus menjadi sekolah pertama yang mendidik karakter anak, termasuk dalam membatasi penggunaan gawai (handphone).

“Waktunya anak bermain, ya bermain, karena itu memang tabiat mereka. Namun, manajemen waktu harus tetap diterapkan. Waktu tidur ya tidur, waktu makan ya makan, waktu belajar ya belajar, dan waktu mengaji ya mengaji,” tegas Iptu Supardi, S.H.

Di sisi lain, Iptu Supardi mengajak jemaah yang hadir untuk senantiasa memperbanyak selawat, sedekah, dan istigfar. Ia menekankan bahwa ketiganya merupakan amalan saleh yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah Swt. Selain itu, ia mengingatkan setiap Muslim untuk memperbanyak sujud dan rasa syukur.

Sujud dimaknai sebagai ketundukan dalam beribadah kepada Allah, sementara syukur diwujudkan dengan menghargai nikmat kehidupan—salah satunya melalui kegemaran bersedekah kepada sesama.

Suasana tausiyah pun terasa hangat dan hidup. Seperti ciri khasnya, Iptu Supardi menyelingi ceramahnya dengan guyonan segar serta membagikan santunan kepada jemaah, khususnya anak-anak yang hadir di lokasi.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.