Advertisement

apijiwa.id – Menghadapi arus disrupsi teknologi dan pergeseran paradigma pendidikan global, Madrasah Aliyah (MA) 2 Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep, menggelar agenda strategis bertajuk “Capacity Building: Transformasi Pendidikan di Era Disrupsi”.

Acara yang berlangsung pada Ahad (2/5/2026) ini dipusatkan di Aula Lantai Dua MA 2 Annuqayah. Agenda ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kualitas pendidik di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Tepat pukul 08.00 WIB, suasana khidmat menyelimuti ruangan. Pembukaan acara dihadiri sejumlah tokoh kunci pendidikan di Sumenep serta jajaran pimpinan Yayasan Annuqayah. Ahmad Junaidi, S.Pd., selaku Ketua Panitia sekaligus Kepala MA 2 Annuqayah, mengawali laporan kegiatannya dengan ungkapan syukur yang mendalam.

Dalam sambutannya, Junaidi menyampaikan bahwa antusiasme satuan pendidikan di bawah naungan Yayasan Annuqayah sangat luar biasa. Sebanyak 60 peserta terpilih yang merupakan representasi guru-guru terbaik hadir memenuhi undangan panitia.

“Kami sangat bersyukur, seluruh utusan yang kami undang hadir 100 persen. Ini menunjukkan adanya frekuensi yang sama untuk bergerak maju bersama. Keberhasilan menghadirkan narasumber mumpuni hari ini juga tidak lepas dari kontribusi alumni kami, Bapak Drs. Zurni, S.Pd., M.Mpd., yang akan membedah materi pada sesi pertama,” ujar Ahmad Junaidi.

Momen paling penting dalam pembukaan ini adalah saat KH. Abbasi Ishomuddin, M.A., Ketua Yayasan Annuqayah, memberikan arahan strategis. Kiai Abbasi menegaskan bahwa MA 2 Annuqayah harus segera melakukan lompatan kuantum, khususnya dalam penguasaan sains dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Kiai Abbasi memberikan tantangan terbuka bagi seluruh civitas akademika. Ia menetapkan indikator keberhasilan madrasah bukan lagi sekadar kelulusan administratif, melainkan kemampuan siswa untuk menembus Perguruan Tinggi Negeri (PTN) kasta tertinggi di Indonesia.

“Target kita jelas. MA 2 Annuqayah harus menjadi garda terdepan dalam mencetak saintis muda yang berakhlakul karimah. Indikator keunggulan kita adalah apabila alumni diterima di kampus-kampus elit seperti UI, UGM, ITB, ITS, UNAIR, UNPAD, UB (Universitas Brawijaya), dan IPB,” tegasnya dengan penuh wibawa.

Sebagai langkah konkret, Kiai Abbasi menginstruksikan agar sistem rekrutmen siswa baru mulai tahun ini dirombak total. Seleksi masuk ke MA 2 Annuqayah akan diperketat demi memastikan input siswa memiliki kapasitas yang sesuai dengan standar akademik yang ingin dicapai. Transformasi ini dianggap mendesak agar madrasah tetap relevan di tengah perkembangan zaman yang serba cepat.

Turut hadir memberikan arahan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, Abdul Wasid, M.Pd.I. Ia menyoroti sisi spiritualitas dan profesionalisme pendidik di tengah hiruk-pikuk administrasi tunjangan.

Dalam pesan yang tajam namun memotivasi, ia mengingatkan agar para guru tidak terjebak pada pragmatisme finansial. Tunjangan Profesi Guru (TPG) memang merupakan hak, namun kualitas pengajaran adalah kewajiban yang tidak boleh ditawar.

“Saya berpesan, guru jangan hanya sibuk mengharap TPG cair tepat waktu, tapi lupa cara mengajar dengan tepat asas. Jangan sampai semangat mengajar melemah hanya karena TPG terlambat cair. Ingat, guru adalah mudarris—sebaik-baik teladan bagi siswa,” ujar Abdul Wasid.

Ia juga menekankan pentingnya penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang harus berakar dari kesadaran hati nurani, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif. Transformasi pendidikan di era disrupsi, menurutnya, harus dimulai dari transformasi mentalitas pendidiknya.

Setelah seremoni pembukaan berakhir pada pukul 10.00 WIB, acara dilanjutkan dengan sesi intensif yang dirancang untuk membekali guru dengan keterampilan abad ke-21.

Kegiatan Capacity Building ini bukan sekadar pelatihan rutin, melainkan sebuah pernyataan sikap dari MA 2 Annuqayah. Dengan memperketat seleksi masuk dan menetapkan standar tinggi pada universitas papan atas, madrasah ini bersiap mengubah wajah pendidikan Islam di Sumenep menjadi lebih kompetitif dan saintifik, namun tetap bersahaja dalam keteladanan.

Antusiasme 60 peserta yang bertahan hingga akhir acara menjadi sinyal positif bahwa transformasi pendidikan di Annuqayah bukan lagi sekadar wacana, melainkan gerakan nyata yang digerakkan oleh MGMP Intern Yayasan Annuqayah.

Facebook Comments Box

Penulis: Ahmad Muhli JunaidiEditor: M. A. Fathan

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.