apijiwa.id – Tatar Sunda punya tokoh yang begitu peduli terhadap pelestarian budayanya, salah satunya adalah Riadi Darwis, sosok yang tekun meneliti gastronomi Sunda. Nama Riadi Darwis mulai lekat dengan dunia gastronomi Sunda sejak buku-bukunya terbit pada tahun 2019.
Ya, Riadi Darwis memang mulai dikenal publik dalam beberapa tahun terakhir. Ia dikenal sebagai seorang penulis buku serial gastronomi Sunda. Meski sebenarnya, ia telah meneliti dan menggeluti sejarah, terutama terkait dengan makanan tradisional Sunda, sejak sekitar 35 tahun yang lalu.
“Ketertarikan ini awalnya saya lakukan sambil jalan-jalan, karena hobi saya memang jalan-jalan. Saya selalu mencatat apa-apa yang terkait dengan jenis makanan yang saya temui,” cerita dosen Politeknik Pariwisata NHI Kota Bandung dalam sebuah kesempatan di sudut Kota Kembang kepada Apijiwa.id.
Riadi Darwis mengaku memiliki hobi memasak karena tumbuh dari latar keluarga yang pernah berbisnis kuliner di kawasan Garut. Ia sering dilibatkan dalam usaha rumah makan itu oleh sang nenek dan kakek, sejak menyiapkan, mengolah bahan, hingga menyajikannya.
“Mungkin itu yang menjadi alasan saya tertarik (menggeluti) dunia gastronomi. Boleh jadi inspirasinya karena saya sering bergelut dengan dunia masakan. Jadi tak heran jika gastronomi begitu dekat dengan diri saya,” kenang pria yang kini berusia 59 tahun.
Riset Senyap
Riadi Darwis sendiri adalah seorang dosen Bahasa dan Sastra Indonesia. Meski begitu, ia dituntut mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja. Ia harus menyesuaikan diri dengan vokasi yang ada di kampus.
Terlebih katanya, ada fenomena aneh di kampus, karena yang banyak muncul adalah makanan dengan cita rasa Eropa dan Asia. “Dari situ memunculkan dorongan, mengapa tidak berfokus pada makanan nasional yang basisnya makanan tradisional Sunda,” tutur ayah dua anak ini.
Menurut Riadi, awal-awal menerjuni dunia gastronomi, ia melakukan apa yang disebutnya sebagai ‘riset senyap’. Dalam arti, banyak orang yang tidak tahu dengan apa yang dilakukannya. Namun, saat di kampus, ada semacam tuntutan ingin ada kajian khusus kuliner Nusantara, sehingga dari situ ia mulai melakukannya secara terbuka dan lebih serius.
Riadi melakukan riset panjangnya secara mandiri, mengingat tidak semua orang suka dengan bidang gastronomi karena sifatnya yang spesifik. Baginya, memahami gastronomi sama dengan memahami budaya sebuah daerah.
“Saat ini saya lebih fokus (meneliti) wilayah Jawa Barat dan Banten, kendati juga sedang meneliti di Kalimantan. Sebelumnya di Jawa Tengah sebagian sudah saya lakukan,” tegas Riadi Darwis yang lahir di Garut, 24 Januari 1966.
Merilis Buku
Untuk penggalian data, Riadi tidak sekedar mengumpulkannya dengan mewawancara warga lokal, namun juga riset sejumlah prasasti dan buku kuno. Dari sana, ia menemukan berbagai folklore, sejarah, dan hal penting yang musti diketahui publik.
Dari hasil risetnya itulah, Riadi Darwis kemudian merilis sejumlah buku serial gastronomi Sunda. Setidaknya ada tiga buku serial gastronomi Sunda karya Riadi Darwis yang telah terbit, yaitu Khazanah Kuliner Keraton Kesultanan Cirebon (Selaksa Media, 2019), Khazanah Kuliner Kabuyutan Galuh Klasik (UPI Press, 2020), dan Khazanah Lalab, Rujak, Sambal, dan Tékték Jilid 1 dan 2 (UPI Press, 2022).

“Ada yang menganggap buku saya itu seperti ensiklopedia. Saya justru senang, karena berarti buku saya bisa menjadi sumber rujukan,” ujar Riadi Darwis.
“Semua yang saya lakukan sebagai bentuk cinta saya terhadap budaya lokal. Bagi saya, memahami gastronomi itu sama artinya dengan melestarikan budaya untuk generasi mendatang,” ujarnya lagi.
Lebih jauh Riadi Darwis menyatakan, dengan memahami gastronomi, banyak sekali hal yang bisa menjadi acuan bagi kita untuk mengetahui budaya di daerah setempat. Riadi memberi contoh, sebenarnya bagi mereka yang tinggal di Tatar Pasundan, ada semacam ketentuan yang tidak tertulis, seseorang yang hendak memasak, harus membersihkan diri terlebih dulu dan juga mengenakan pakaian yang bersih.
“Jadi, jika kita pelajari secara utuh, maka banyaknya orang-orang yang terkena penyakit, mungkin dengan melihat ilmu yang satu ini, maka penyebabnya boleh jadi karena orang-orang tidak memahami gastronomi. Sehingga, ikhtiar saya ini, selain memberikan pemahaman tentang gastronomi, juga mendorong orang-orang untuk memahami budayanya sendiri,” tambah kakek satu cucu ini.
Filosofi Orang Sunda
Sebagian orang mungkin menganggap tak perlu berpikir soal gastronomi segala, cukup menikmati makanan yang ada tanpa perlu pusing-pusing. Riadi justru beranggapan, jika semua itu sangat terkait dengan tradisi.
Kehidupan orang Sunda tercermin dari tradisi yang selalu berhubungan dengan alam dan Tuhannya. Apalagi tatar Sunda diberkahi dengan banyaknya pangan yang begitu bermanfaat bagi kehidupan.
“Jadi di sini (tatar Sunda) itu bisa ditanam apa saja, lalu kemudian diolah, dan semua itu tak akan mungkin membuat kekurangan jika dikelola secara baik,” ujar suami dari Pupah Komariah.
Filosofi kehidupan orang Sunda itu harus dipahami secara utuh. Bagi Riadi, hal itu dapat diketahui dari tradisi lisan Nyi Pohaci, yang menganggap pangan yang ada adalah sesuatu yang penting, penuh keberkahan, dan patut disyukuri. Sehingga tak mengherankan jika orang Sunda itu bisa menanam apapun dan mampu mengolahnya dalam bentuk apapun, sehingga seolah tak ada tanaman pangan yang tak bisa dimanfaatkan.
Dari hasil penelitiannya, Riadi Darwis berhasil menemukan 718 jenis tanaman lalab, 368 jenis rujak, 54 varian rujak-rujakan di wilayah Jawa Barat dan Banten, serta sekitar 98 jenis sambal yang setiap waktu terus berkembang dan bisa bertambah.
“Sebagai gambaran saja, ada 718 jenis lalab, misalnya itu digunakan untuk corak batik saja, sungguh sangat luar biasa. Jadi gastronomi kalau ditekuni secara baik tetap saja kaitannya dengan budaya lokal juga. Belum jika dikembangkan potensi ekonominya, sungguh luar biasa,” kata pengagum Rasulullah Saw ini.
Anugerah Kebudayaan 2025
Riadi menegaskan, di Jawa Barat dan Banten masih ada 21 kota/kabupaten yang belum ia riset gastronominya. Secara perlahan dan bertahap akan dilakukannya agar semakin menambah khazanah gastronomi tradisional Sunda.
Saat ditanya, daerah mana yang paling menarik terkait hasil risetnya? Riadi dengan tegas menjawab, semua daerah menarik karena memiliki keunikan dan kekhasannya masing-masing.
“Tentu saja, apa yang ada di daerah pesisir berbeda dengan yang ada di daerah agraris,” begitu kata Riadi, yang selalu bersemangat jika membicarakan gastronomi Sunda.

Ganjaran dari ketekunannya menggeluti gastronomi Sunda, belum lama ini Riadi Darwis memperoleh penghargaan Anugerah Kebudayaan Kota Bandung tahun 2025, yang diserahkan langsung oleh Walikota Bandung, M Farhan, di Balai Kota Bandung, kategori Pelestari.
Menurut Riadi, penganugerahan itu awalnya berkat dorongan rekan-rekannya karena melihat konsistensi dan ketekunannya menekuni gastronomi tradisional Sunda. Karena dorongan itu, akhirnya Riadi mengikuti seleksi dengan syarat yang telah ditentukan.
“Jadi yang didapat itu semacam surprise, karena yang difokuskan oleh saya sendiri adalah bagaimana orang-orang Sunda bisa ‘ngeh dan mencintai budayanya sendiri,” ungkap Riadi Darwis.
Ia berharap apa yang telah ditulisnya bisa bermanfaat bagi banyak orang. “Alhamdulillah, saat ini tumbuh kesadaran banyak pengusaha muda yang mengadopsi resep-resep yang saya tulis. Saya senang karena itu bagian dari edukasi gastronomi. Bahkan kebiasaan orang tua dulu yang memasak harus bersih segala sesuatunya, menjadi SOP yang diterapkan di hotel-hotel,” kata Riadi yang menyukai lalapan dan rujak.
Riadi berharap, persistensi orang tua kita dulu dapat terwujud dalam bagaimana mereka menjaga makanan, pangan, dan juga alamnya, sehingga selalu terjaga dalam kehidupan. “Semoga tumbuh kesadaran dari semua pihak untuk bisa mencintai budayanya sendiri,” pungkasnya.












