apijiwa.id – Bila artikel yang telah kita tulis sudah banyak dan sebagiannya telah juga dimuat di koran, kita bisa menyuntingnya menjadi sebuah buku. Dengan membukukan artikel-artikel kita, maka artikel-artikel kita tersebut bisa terdokumentasi dengan baik dan bisa diakses lagi oleh khalayak dalam bentuk lain.
Membukukan artikel memang salah satu teknik menulis buku yang diperkenalkan oleh sejumlah writing coach, termasuk saya, dalam berbagai kesempatan mengisi seminar dan training penulisan.
Agus M. Irkham, seorang penulis dan writing coach, dalam buku karyanya berjudul Best Seller Sejak Cetakan Pertama (2008) menyatakan, “Jika Anda ingin sekali menulis buku utuh, tapi merasa tidak mempunyai kesabaran yang cukup untuk menyelesaikannya dalam sekali pukul, cobalah menulis artikel. Tapi Anda harus setia menekuni satu tema tertentu. Jangan kemaruk, dengan mengomentari semua hal. Kirim artikel Anda itu ke media. Boleh media tingkat nasional, atau lokal sekalipun”.
Nah, tulis Agus lebih lanjut, pada jumlah tertentu artikel Anda yang telah dimuat media, dapat Anda sunting menjadi satu buku. Tak soal orang menyebut buku yang Anda hasilkan adalah buku yang bukan buku, yang penting, Anda sudah menerbitkan buku.
Fenomena Buku Kumpulan Tulisan
Sesungguhnya, apa yang disampaikan Agus M. Irkham itu bukan hal baru. Fenomena buku yang di dalamnya berisi kumpulan tulisan seperti itu sudah jamak sejak dulu. Penerbit Mizan (Bandung), dalam amatan saya, adalah salah satu pelopor penerbitan buku-buku yang sering disebut sebagai book is not book itu.
Di awal-awal pendiriannya pada awal tahun 1980-an, penerbit ini banyak menerbitkan buku-buku karya para tokoh yang disunting dan dikompilasi dari berbagai artikel atau makalah mereka.
Sebut saja buku berjudul Islam Alternatif, Ceramah-Ceramah di Kampus karya pakar psikologi komunikasi dari Bandung, Jalaludin Rakhmat (alm) atau biasa disapa Kang Jalal, yang diterbitkan oleh Mizan (cetakan pertama tahun 1986). Buku ini merupakan hasil kompilasi dari makalah-makalah yang pernah dipresentasikan Kang Jalal dalam berbagai even diskusi dan seminar di berbagai kampus.
Buku Kang Jalal lainnya, yaitu Islam Aktual, Refleksi Seorang Cendekiawan Muslim yang juga diterbitkan oleh Mizan (cetakan pertama tahun 1991) setali tiga uang. Buku ini adalah kompilasi dari artikel-artikel Kang Jalal yang pernah dimuat di beberapa koran seperti harian Gala, Kompas, Jawa Pos, dan lain sebagainya.
Selain Kang Jalal, penerbit Mizan juga menerbitkan buku kompilasi artikel atau makalah dari para tokoh ternama lainnya seperti: M. Quraish Shihab, M. Amien Rais, Kuntowijoyo, Emha Ainun Najib, dan lain sebagainya.
Buku karya Amien Rais yang berjudul Cakrawala Islam, Antara Cita dan Fakta yang diterbitkan Mizan (cetakan pertama tahun 1987) adalah merupakan kumpulan tulisan yang dimuat di beberapa media massa dan makalah di berbagai seminar dan diskusi. Begitu pun buku berjudul Membumikan Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat karya Quraish Shihab yang juga diterbitkan oleh Mizan (cetakan pertama tahun 1992), juga merupakan kumpulan makalah-makalah di berbagai diskusi dan seminar.
Tak Hanya Monopoli Tokoh
Fenomena penerbitan “buku yang bukan buku” seperti itu juga banyak kita jumpai saat ini. Di pasaran, banyak kita jumpai buku-buku yang di dalamnya berisi kompilasi tulisan. Beberapa buku karya para tokoh ternama seperti Hermawan Kartajaya (pakar marketing), Rhenald Kasali (pakar bisnis), Andreas Herefa (motivator), dan M. Anis Matta (politikus), ada di antaranya yang merupakan kompilasi dari artikel-artikel kolom mereka yang pernah dimuat di media massa.
Bahkan, buku semacam itu saat ini tidak hanya monopoli para tokoh terkenal saja. Siapa pun, bisa menerapkan langkah serupa. Bahkan tulisan-tulisan yang dikompilasi tidak harus terlebih dulu dimuat di media massa profesional (baca: media mainstream) seperti Kompas, Jawa Pos, Republika, Sindo, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, dan media profesional lainnya. Namun, tulisan itu bisa juga berasal dari tulisan-tulisan yang pernah diposting di media-media gratisan di internet seperti blog atau catatan-catatan (notes)—sekarang status, di media sosial semacam Facebook.
Pengalaman Pribadi
Saya sendiri pernah menerapkan langkah ini. Salah satu buku saya berjudul Menempuh Jalan ke Surga, Catatan Motivasional yang Menggugah Jiwa dan Meneguhkan Iman merupakan hasil kompilasi dari tulisan-tulisan yang pernah saya posting di akun Facebook saya dan mendapat respons positif dari banyak teman.
Sepanjang tahun 2009, secara nyicil alias secara berkala—seminggu sekali atau dua kali, saya memang aktif memosting tulisan yang mengerucut pada satu tema besar: motivasi ibadah. Pada awalnya saya tidak merencanakannya untuk mengkompilasi tulisan-tulisan itu dalam satu buku.
Namun, ketika catatan saya itu sudah mencapai 40 tulisan, baru terpikir mengkompilasinya dalam sebuah buku. Maka, saya suntinglah tulisan-tulisan itu. Judulnya saya comot dari salah satu judul artikel yang menurut saya mewakili atau mengandung benang merah dari keseluruhan artikel, yaitu Menempuh Jalan ke Surga. Lalu saya beri sub judul Catatan Motivasional yang Menggugah Jiwa dan Meneguhkan Iman.
Naskah tersebut saya kirim ke penerbit Quanta, imprint penerbit Elex Media Komputindo (Kompas-Gramedia Group) dan di-acc. Akhirnya, terbitlah buku tersebut, dengan judul sama, pada Oktober 2014, dan beredar luas di toko buku Gramedia dan toko buku lainnya.
Buku saya lainnya yang merupakan kompilasi artikel berjudul Membumikan Takwa. Buku yang terbitkan oleh Hanum Publisher pada Maret 2016 itu adalah kompilasi artikel-artikel saya yang pernah dimuat di beberapa koran seperti Suara Merdeka dan Koran Muria—keduanya koran lokal di Jawa Tengah, dan beberapa majalah antara lain majalah Suara Hidayatullah.
Bila Anda tertarik, Anda cukup melakukan satu hal saja: mengagendakan menulis artike-artikel dengan suatu topik besar serumpun, misalnya tema sosial, politik, atau pendidikan. Seminggu satu atau dua artikel, tak terasa tiga atau empat bulan ke depan akan terkumpul sejumlah artikel yang bisa disunting dan dikompilasi menjadi buku. Akan lebih lebih menarik lagi bila tulisan-tulisan itu dimuat terlebih dulu di koran atau media online, baru kemudian dibukukan, karena nilai jualnya akan lebih meningkat.
Anda tertarik mencobanya?











