apijiwa.id – Jalan Menikung Dunia Pendidikan adalah buku karya Ahmad Mudda’i Yusuf, seorang pendidik Annuqayah yang berasal dari Dusun Tanggulun Montorna, Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, yang terpencil. Buku ini merupakan salah satu sumbangsih pemikiran penting bagi dunia pendidikan dan kebudayaan Indonesia di tengah dinamika peradaban yang bergerak cepat.
Dengan tebal 281 halaman, buku ini menawarkan pemikiran komprehensif dan reflektif tentang bagaimana pendidikan menjalani tikungan dalam perkembangannya, yang tak selalu mulus, namun tetap penuh kemungkinan.
Melalui judul yang metaforis, penulis mengajak kita memahami pendidikan bukan sebagai jalan lurus bebas hambatan, melainkan rute berliku yang menuntut kewaspadaan, ketenangan, dan kebijaksanaan agar tidak terjerumus ke jurang kesalahan historis (hlm. 13).
Dalam buku ini, Mudda’i menghadirkan refleksi kritis mengenai fakta pendidikan Indonesia yang berhadapan dengan cita luhur pembentukan manusia berbudaya. Ia melihat pendidikan bukan hanya proses transfer pengetahuan, tetapi juga proses pembentukan watak bangsa, pembudayaan nilai, dan pembentukan identitas manusia Indonesia yang tidak tercerabut dari akar sejarah dan moralnya.
Dialektika antara cita dan fakta menjadi napas besar buku ini. Cita-cita pendidikan nasional telah tertulis jelas dalam konstitusi dan dokumen resmi negara: memanusiakan manusia, membentuk karakter, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, kenyataan sosial menunjukkan jalan yang tidak selalu seindah idealisme tersebut.
Sistem birokrasi yang kaku, kurikulum yang sering berubah mengikuti arah angin kebijakan, guru yang terjebak administrasi ketimbang menjadi pendidik sejati, hingga sekolah yang terkadang lebih sibuk pada kompetisi angka ketimbang kompetensi nurani—semuanya menjadi cermin bahwa pendidikan kita masih jauh dari ruang cita-cita (hlm. 72).
Meski begitu, Mudda’i tidak hadir sebagai pesimistis yang hanya menyampaikan kritik. Ia tampil sebagai pendidik yang penuh harapan, yang percaya bahwa perubahan mesti dimulai dari kesadaran kolektif dan komitmen moral. Kritiknya lembut namun menghunjam, tajam tetapi penuh etika.
Ia memahami bahwa pendidikan adalah proses panjang, dan dalam proses panjang itu kita harus bersabar, sekaligus terus bergerak. Di sinilah konsep “menikung” menemukan relevansinya: perubahan pendidikan memerlukan keluwesan, kemampuan membaca zaman, dan keberanian mengambil keputusan pada momen krusial (hlm. 30).
Salah satu bagian menarik yang disentuh penulis adalah persoalan literasi. Dalam bab bertajuk Gemar Membaca; Problema?, Mudda’i tidak hanya mengeluhkan lemahnya minat membaca, tetapi mengurai akar persoalan budaya di baliknya (hlm. 179).
Membaca bukan sekadar aktivitas teknis, tetapi budaya berpikir dan bertanya. Di masyarakat yang mulai lebih menyukai hiburan instan, kecanggihan digital tanpa keseimbangan literasi justru dapat melahirkan generasi cepat tahu tetapi tidak mendalam.
Ia mengingatkan bahwa sebuah bangsa besar lahir dari tradisi membaca dan pendidikan yang bermartabat dimulai dari kepala yang mau mengolah gagasan. Kritik ini terasa sangat relevan ketika banyak anak muda lebih fasih berkomentar di media sosial daripada memahami teks panjang yang menuntut perenungan.
Lebih jauh, buku ini tidak berhenti pada kritik budaya. Ia menawarkan arah bagi pendidikan masa depan yang berkemajuan tanpa meninggalkan akar keadaban. Pendidikan yang hanya berbicara teknologi akan melahirkan manusia mesin; sebaliknya, pendidikan yang hanya berbicara moral tanpa penguasaan pengetahuan dan teknologi akan tertinggal dalam persaingan global.
Maka, pendidikan harus menjadi harmoni antara kecakapan berpikir dan keluhuran budi. Antara fiddun-ya hasanah wa fil akhirati hasanah. Di sinilah kesan filosofis penulis tampak kuat: ia menempatkan pendidikan sebagai proses kebudayaan, proses spiritualitas sosial, bukan sekadar sistem sekolah atau instrumen ekonomi kapitalis.
Bab pamungkas tentang Manusia, AI, dan Edukasi memperlihatkan keluasan pandangan penulis terhadap perkembangan dunia kekinian. Dalam era kecerdasan buatan, ketika mesin dapat menjawab soal dan robot mampu mengajar, pertanyaan mendasar muncul: apa peran manusia?
Menurut Mudda’i, teknologi dapat membantu pembelajaran tetapi tidak dapat menggantikan sentuhan manusia (guru) dalam mendidik. AI mampu menyusun informasi valid, tetapi tidak memiliki hati nurani, empati, dan spiritualitas.
Guru tetaplah pusat pendidikan sejati, bukan karena pengetahuan semata, tetapi karena keteladanan dan kebijaksanaan yang berhulu pada hati. Pandangan ini menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan tidak hanya soal perangkat digital, tetapi juga memelihara jiwa manusia tetap manusiawi.
Dari segi gaya bahasa, buku ini ditulis dengan bahasa ilmiah, intelektualitas tinggi, namun sangat mudah dipahami. Tidak ada istilah berlebihan, tidak ada retorika jlimet. Cara mengungkapkan suatu istilah penulis jabarkan dengan tenang, berwibawa, dan penuh kelembutan batin seorang pendidik yang matang dalam dunia kependidikan.
Kita tidak hanya membaca ide, tetapi merasakan pengalaman, menyerap hikmah, dan menyadari kedalaman nurani seorang yang telah lama berkecimpung di dunia tarbiyah. Buku ini bukan manifesto politik pendidikan, tetapi kesaksian batin seorang guru terhadap peradaban bangsanya yang kini ‘mulai maju’.
Jalan Menikung Dunia Pendidikan adalah bacaan wajib bagi mereka yang percaya bahwa masa depan bangsa bertumpu pada ruang kelas, ruang keluarga, dan ruang sosial tempat nilai-nilai ditanamkan. Para guru, mahasiswa pendidikan, birokrat, orang tua, pegiat literasi, dan siapa pun yang peduli terhadap arah bangsa akan memperoleh pencerahan dari buku ini.
Buku ini mengajarkan bahwa perubahan tidak membutuhkan teriakan keras, tetapi langkah sadar yang konsisten. Pendidikan adalah perjalanan panjang yang menuntut kita bersabar, sambil terus mengasah pikiran dan menjaga martabat kemanusiaan itu sendiri.
Dalam dunia yang berlari cepat, buku ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan saja persoalan kecepatan, melainkan kemuliaan. Tikungan zaman boleh tajam, tetapi dengan pikiran jernih, hati teduh, dan visi kemanusiaan yang kuat, kita bisa melewatinya dan tiba di tujuan: lahirnya manusia berilmu, beradab, dan berjiwa merdeka.
Buku ini bukan hanya bacaan, tetapi cahaya kecil yang menuntun pejalan dalam gelap: tenang, lembut, namun pasti memberi arah.
Identitas Buku
Judul: Jalan Menikung Dunia Pendidikan
Penulis : Ahmad Mudda’i Yusuf
Penerbit: Bildung Nusantara, Yogyakarta
Tahun Terbit: September 2025
Jumlah Halaman: 281 halaman
ISBN: 978-634-7056-88-7












