Advertisement

apijiwa.id – Jargon seperti “jarene wong tua biyen bakalan ana jaman edan, nek ora edan ora keduman” (kata orang tua dulu, nanti akan ada zaman gila, kalau tidak ikut gila tidak akan kebagian) serta “sak-sakti-saktine wong bakal sakti wong sing eling lan waspada” (sehebat-hebatnya orang, yang paling sakti adalah orang yang ingat dan waspada) seringkali saya dengar ketika masa sedang tidak menentu.

Biasanya, ungkapan tersebut muncul ketika harga bahan pokok naik, gaji tidak kunjung naik, hingga banyak orang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi. Banyak yang bilang akan datang suatu era gila, di mana jika kita tidak ikut berbuat gila, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Benarkah seperti itu, dan dari mana asalnya ungkapan-ungkapan tersebut?

Setelah sekian lama mendengar ungkapan-ungkapan tersebut sejak zaman sekolah, saya merasa penasaran tentang asal-usulnya. Apakah ungkapan itu hanya sebatas karya sastra, peribahasa, ataukah sekadar mitos belaka?

Hingga akhirnya saya mengerti. Setelah sekian lama mencari, saya menemukan bahwa ungkapan “zaman edan” berasal dari salah satu mahakarya sastra Jawa yang dikenal sebagai Serat Kalatidha, yang ditulis oleh pujangga besar Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Sekilas tentang Ranggawarsita

Sebelum membahas lebih jauh mengenai Serat Kalatidha, saya akan membahas sedikit tentang siapa Ranggawarsita. Namanya selalu mengingatkan saya pada salah satu tempat favorit saat masih tinggal di Kota Semarang (Kota Lumpia), yaitu Museum Ranggawarsita—tempat yang sering saya kunjungi bersama siswa-siswa untuk praktik menggambar arca agar kemudian dijadikan ilustrasi.

Raden Ngabehi Ranggawarsita adalah pujangga besar di tanah Jawa dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Beliau lahir dengan nama asli Bagus Burhan dan sangat dihormati karena karya-karya sastra serta kedalaman filsafatnya. Salah satu warisan pemikirannya yang paling melekat di masyarakat adalah pembentukan konsep gagasan yang menyelaraskan ajaran Islam dengan tradisi spiritual kebatinan Jawa.

Masa mudanya yang sempat nakal dan gemar berjudi berubah drastis setelah ia belajar agama di Ponorogo; bahkan dikisahkan ia pernah berkelana hingga ke Bali untuk memperdalam ilmu. Puncak kariernya diraih pada 14 September 1845 ketika diangkat menjadi pujangga keraton oleh Pakubuwana VII, yang menjadikannya sastrawan yang sangat produktif.

Namun, pada paruh akhir hidupnya, ia menghadapi tantangan akibat hubungan yang kurang harmonis dengan Raja Pakubuwana IX serta pengawasan ketat dari pemerintah kolonial Belanda yang menganggap tulisan-tulisannya berbahaya. Ia pun akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai redaktur surat kabar pada tahun 1870 dan wafat pada 24 Desember 1873.

Apa Itu Serat Kalatidha?

Secara harfiah, kata Kalatidha berarti “zaman yang penuh keraguan”, “zaman kacau balau”, atau yang secara populer dikenal sebagai “zaman edan”. Istilah ini berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa, yaitu kala yang berarti waktu, era, atau zaman, dan tidha yang berarti ragu-ragu, samar, bimbang, atau tidak menentu.

Secara filosofis, Raden Ngabehi Ranggawarsita menggunakan istilah ini untuk menggambarkan situasi sosial dan moral masyarakat pada masa kolonial abad ke-19, di mana tatanan nilai rusak, penuh kemunafikan, dan membuat orang yang ingin bertindak benar justru merasa bingung atau ragu-ragu. Serat yang terdiri dari 12 bait ini merupakan respons personal sekaligus sosial Ranggawarsita terhadap situasi politik keraton yang korup, penuh fitnah, dan hilangnya wibawa hukum.

Muhammad Eka Yulianto, Arqom Kuswanjono, dan Agus Himawan Utomo dalam Ganaya: Jurnal Ilmu Sosial & Humaniora (2025) menyebut Serat Kalatidha karya Ranggawarsita sebagai bentuk kritik tajam terhadap masuknya paradigma Barat seperti sekularisme dan relativisme pada abad ke-19.

Lantas, apa isi dari Serat Kalatidha tersebut? Berikut adalah tabel terjemahan Serat Kalatidha yang saya susun berdasarkan terjemahan yang dicetak dan dipublikasikan oleh Sanggar IQRA Hanacaraka.

Bait 1
Alamat buruk keadaan negara saat ini, tampak semakin terpuruk, pemerintahan parah, karena kehilangan teladan, banyak yang meninggalkan etika, kaum cendekiawan tampak dungu terbawa arus Kalatidha (zaman kacau balau). Situasi mencekam, dunia penuh dengan cobaan.
Bait 2       
Sebenarnya rajanya baik, patihnya juga ulung, anak buahnya baik, tokoh masyarakatnya juga baik. Namun semua itu tidak serta mendatangkan kebaikan karena pengaruh zaman Kalabendu. Bahkan kondisi semakin parah, fitnah merajalela, banyak konflik kepentingan antar sesama.
Bait 3
Sang Pujangga hanya bisa menangis penuh duka. Ingin menjaga hati tapi malah mendapat hinaan dan malu karena ulah seseorang, yang telah memberi harapan palsu dan punya maksud tersembunyi. Sang pujangga yang terlalu berprasangka baik menjadi tidak waspada.
Bait 4
Banyak beredar berita, yang ternyata hanya hoax. Katanya akan diangkat sebagai pejabat, tapi ternyata malah tersingkir. Sebenarnya Jika betul-betul direnungkan, apa untungnya menjadi pemimpin? Hanya akan menanam persoalan saja. Apalagi jika tidak amanah. Akhirnya justru akan semakin menyengsarakan.
Bait 5

Para sastrawan sudah mengingatkan, jika di zaman yang penuh kezaliman ini, orang jujur malah tidak terpakai. Demikianlah jika kita perhatikan, apa gunanya percaya desas-desus, hanya akan bikin sakit hati saja. Lebih baik banyak berkarya, tentang kisah zaman dulu kala.
Bait 6

(Kisah zaman dulu itu) bisa menjadi pelajaran antara yang baik dan buruk. Sesungguhnya banyak contoh dalam kehidupan, hasil yang dipetik dari suatu amal. Perlu tawakkal untuk menjalani takdir, dimana banyak kejadian di luar nalar manusia.

Bait 7
Berada di zaman edan, jadi serba salah. Mau ikut-ikutan edan, tidak tahan, tapi kalau tidak ikut arus, tak ikut kebagian, akhirnya jatuh miskin. Tapi Allah itu Maha Adil. Seberuntungnya orang yang lalai, masih beruntung orang yang selalu ingat dan waspada.
Bait 8
Ah, Itu sekedar retorika, karena iri saja. Bukan begitu Paman Doblang ?! Lisannya bilang (lebih beruntung yang ingat dan waspada) tapi hatinya ada keraguan. Sudah di usia tua, mau apa ?! Mending memperbanyak introspeksi, supaya mendapat ampunan Ilahi.
Bait 9
Beda dengan yang sudah mantap imannya, yang mendapat rahmat Tuhan, hatinya selalu tentram, tidak disibukkan oleh mata pencaharian, karena mendapat pertolongan Tuhan. Semua makhluk itu sama, masing-masing sudah dijamin rejekinya, meski demikian tetap harus rajin berikhtiar (secara halal).
Bait 10

Berusaha sesuai kemampuan, dilakukan dengan suka rela, selama tak merugikan orang lain. Sesuai ajaran leluhur, ikhtiar itu wajib memilih jalan yang baik. Ikhtiar juga dilakukan dengan awas dan waspada, agar mendapat anugrah-Nya.

Bait 11
Ya Allah ya Rasulullah Yang bersifat pemurah dan penyayang. Semoga berkenan memberikan pertolongan yang selalu menyertai selama hidup hamba di alam dunia dan akhirat. Hamba menyadari sudah usia lanjut, tak tahu bagaimana akhirnya nanti, maka betul-betul semoga ada pertolongan-Mu.
Bait 12
Semoga (hamba) bisa tetap sabar dan sentosa, sumarah pasrah, lepas dari segala fitnah, dijauhkan dari angkara murka. Hanya dengan berkhidmat kepada-Mu dan berharap belas kasih-Mu, semoga terhindar dari siksa dan mendapat kemudahan segala urusan. Hanya kepada-Mu, hamba serahkan seluruh jiwa dan raga.

 

Serat Kalatidha memang merupakan bentuk kritik sosial, tetapi banyak pula orang yang menganggapnya sebagai sebuah ramalan masa depan. Bagi yang menganggap Kalatidha sebagai ramalan, silakan saja karena itu hak masing-masing; begitu pula bagi yang menganggapnya sebagai kritik murni. Yang paling penting dari semua itu adalah output atau pelajaran yang bisa kita ambil dari pemahaman tentang Kalatidha itu sendiri.

Apakah Serat Kalatidha Masih Relevan untuk Saat Ini?

Apakah karya ini masih relevan untuk hari ini? Apakah masih cocok di era digital sekarang yang penuh dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), serta di tengah situasi di mana negara seolah-olah tampak abai dalam membantu masyarakatnya?

Bagi saya, pesannya justru sangat relevan dengan kondisi saat ini maupun masa depan. Di era digital yang dipenuhi oleh banjir informasi serta krisis psikologis masyarakat akibat tekanan zaman, pesan Serat Kalatidha tidak lantas kedaluwarsa. Pesan tersebut justru menjelma menjadi panduan bertahan hidup (survival guide) yang sangat modern.

Meskipun ditulis pada abad ke-19 untuk merespons kekacauan politik di Jawa pada masa itu, Serat Kalatidha kini menjadi cerminan yang menohok sekaligus panduan hidup bagi kita di era modern.

Pertama; ancaman bebaratan ujar lamis (berita bohong dan janji-janji manis) yang dituliskan oleh Ranggawarsita kini telah berevolusi menjadi perang informasi di era digital. Algoritma media sosial, disinformasi masif, hingga konten manipulatif berbasis kecerdasan buatan (deepfake) saat ini dengan mudah mengepung pikiran kita setiap detik. Hal ini menuntut kita untuk memiliki tingkat kewaspadaan dan literasi digital yang jauh lebih tinggi agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh kepalsuan artifisial, apalagi diombang-ambingkan oleh janji-janji kampanye.

Kedua; dilema “zaman edan” yang digambarkan melalui kebingungan antara ikut arus kebatilan demi keuntungan pribadi atau memilih jujur tetapi tersingkir (melu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni boya kaduman), menemukan bentuk nyatanya dalam budaya kompetisi modern yang hipermaterialistis. Normalisasi jual-beli jabatan, tekanan untuk mengikuti standar hidup palsu, budaya pamer kekayaan (flexing), serta tekanan citra diri di dunia maya kini kerap menguras kewarasan mental masyarakat.

Ketiga; di tengah situasi ketika masyarakat sering merasakan kekecewaan mendalam akibat birokrasi yang lamban dan perasaan bahwa negara seolah-olah abai atau lambat dalam menopang beban hidup rakyatnya, Serat Kalatidha mengingatkan kita untuk tidak menggantungkan keselamatan jiwa sepenuhnya pada sistem eksternal yang sedang bobrok, melainkan membangun ketahanan mandiri dari dalam diri sendiri.

Keempat; krisis keteladanan atau hilangnya figur panutan dari para pemegang kekuasaan yang kerap mempertontonkan pelanggaran etika hari ini, dijawab oleh Ranggawarsita bukan dengan ikut-ikutan marah tanpa arah, melainkan dengan mengalihkan energi untuk memperkuat integritas pribadi serta memperbanyak karya nyata.

Oleh karena itu, di tengah dunia modern yang bergerak terlalu cepat, penuh ketidakpastian ekonomi, dan menguji batas kesabaran mental, resep abadi berupa kesadaran spiritual serta ketajaman berpikir (eling lan waspada) yang ditawarkan oleh Serat Kalatidha tetap menjadi benteng pertahanan terbaik. Hal itu diperlukan agar manusia tidak ikut kehilangan arah, tetap waras, serta mampu merawat kemanusiaannya di tengah dunia yang kian kehilangan kompas prinsip hidup.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.