Advertisement

“Orang Jawa nggak boleh nikah sama orang Sunda!”

“Kamu orang Sunda apa Jawa?”

“Aku maunya Sunda Pride seperti Aurhel Alana dan Nur Intan, tapi aku orang Jawa. Katanya orang Jawa nggak boleh nikah sama orang Sunda?”

Celetukan-celetukan seperti ini seringkali saya dengar saat nongkrong atau sekadar mengobrol santai di warung kopi. Ujaran tersebut seolah menegaskan adanya tembok tebal antara suku Jawa dan Sunda—sebuah mitos lama yang ternyata masih awet bertahan hingga era digital.

Semasa masih mengajar di Kota Lumpia, beberapa siswa pun kerap melempar pertanyaan serupa: “Pak, benarkah orang Jawa nggak boleh nikah sama orang Sunda?” atau “Pak, beneran dulu Gajah Mada menghabisi orang Sunda sampai akhirnya muncul larangan menikah?”

Meski bukan guru sejarah, pertanyaan sejenis terus saja ‘mendarat’ kepada saya. Situasinya tak banyak berubah hingga hari ini. Setiap kali saya membuat konten tentang Mahapatih Gajah Mada, selalu ada warganet yang mengirim pesan pribadi sekadar untuk mengingatkan “kekejaman Gajah Mada dalam tragedi Perang Bubat.”

Lantas, benarkah gara-gara Gajah Mada orang Sunda dan Jawa dilarang bersatu dalam ikatan pernikahan? Lantas, bagaimana fakta sejarah Perang Bubat yang sebenarnya? Mari kita bedah catatan sejarahnya secara runtut.

Menelusuri Sumber Sejarah Perang Bubat

Peristiwa yang kerap dianggap sebagai noda hitam dalam riwayat hidup Mahapatih Gajah Mada adalah Perang Bubat, yang menurut kitab Pararaton terjadi pada tahun 1357 Masehi. Menariknya, hingga hari ini belum ditemukan satu pun prasasti—baik dari pihak Majapahit maupun Sunda—yang mencatat langsung peristiwa Perang Bubat.

Dari puluhan prasasti peninggalan Kerajaan Sunda dan Majapahit, tak ada satupun yang menyinggung tragedi tersebut. Padahal, narasi yang beredar menyebutkan Bubat sebagai peristiwa politik yang sangat besar.

Hampir seluruh informasi yang kita miliki justru bersumber dari karya sastra. Jika kita merujuk pada teks sezaman yang ditulis Mpu Prapanca dalam Desawarnana (Nagarakretagama), pada pupuh 86 dan 87, Bubat hanya dicatat sebagai sebuah lapangan luas tempat berlangsungnya pesta rakyat tahunan yang dihadiri Raja Majapahit, Dyah Hayam Wuruk. Tidak ada drama pertumpahan darah di sana.

Sumber tertua yang mengisahkan pertempuran di Bubat adalah kitab Pararaton, naskah Jawa dari akhir abad ke-15 (meski salinan tertuanya berasal dari sekitar tahun 1600). Kredibilitas Pararaton terbilang cukup diperhitungkan sejarawan karena sebagian isinya selaras dengan temuan prasasti dan catatan Tiongkok.

Setelah Pararaton, muncul naskah Carita Parahyangan dari paruh kedua abad ke-16, disusul Kidung Sunda dan Kidung Sundayana yang ditemukan di Bali. Dua kidung terakhir ini diduga kuat ditulis jauh belakangan (pasca-abad ke-16) karena sudah memuat kosakata bahasa Persia serta istilah senjata api.

Dinamika Narasi: Antara Pararaton dan Kidung

Hardjowardojo (sebagaimana dikutip Heru Effendy dalam Buku Wijaya, 2025) menyadur kisah Perang Bubat dari Pararaton. Diceritakan bahwa Raja Hayam Wuruk berniat memperistri putri dari Sunda. Patih diutus untuk menyampaikan pinangan, dan pihak Kerajaan Sunda menyetujuinya.

Raja Sunda beserta rombongan kemudian bertandang ke Majapahit, tetapi sang raja tidak membawa serta putrinya. Pihak Sunda menginginkan upacara pernikahan dilangsungkan secara megah dan menuntut persetujuan pihak Majapahit. Sebaliknya, Patih Majapahit menolak tuntutan tersebut hingga memicu ketegangan.

Gajah Mada lalu melaporkan situasi pelik itu kepada pihak kerajaan, yang berujung pada rencana pengepungan rombongan Sunda oleh prajurit Majapahit. Di sisi lain, para ksatria Sunda menolak menyerah dan memilih gugur di Lapangan Bubat demi mempertahankan kehormatan.

Sementara itu, Kidung Sunda dan Kidung Sundayana memperinci kisah ini secara lebih dramatis. Disebutkan bahwa Hayam Wuruk sangat berduka atas wafatnya sang Putri Sunda di Bubat hingga ia ikut mangkat tak lama kemudian. Kidung-kidung ini juga menyebut Gajah Mada melakukan moksa tak lama setelah kepergian Hayam Wuruk.

Namun, pakar sastra Jawa P.J. Zoetmulder menyoroti ketidakcocokan narasi kidung tersebut dengan kitab Desawarnana. Mpu Prapanca mencatat bahwa Gajah Mada meninggal dunia karena sakit pada tahun 1364 Masehi, dan Hayam Wuruk sangat berduka atas kepergian sang adimenteri. Saduran yang lebih tegas ditulis oleh Mien Ahmad Rifai dalam buku Gajah Mada Berpulang ke Jinapada:

“Sekembalinya dari Simping, bukan main terkejut Sri Paduka ketika mendengar bahwa Sang Mahapatih Gajah Mada sakit keras. Segala upaya dikerahkan untuk mengobati penyakit yang diderita sang adimenteri. Namun penyakit itu ternyata tak tersembuhkan sehingga meninggallah beliau pada tahun 1364 Masehi. Sang Prabu menjadi sangat sedih, terharu biru dan bahkan hampir merasa putus asa ditinggal tangan kanannya itu….”

Perbedaan Detail dan Kontekstualisasi Teks

Dalam terjemahan awal naskah Pararaton oleh J.L.A. Brandes, Raja Sunda dikisahkan datang ke Majapahit tanpa membawa putrinya. R. Ng. Poerbatjaraka kemudian merevisi terjemahan tersebut menjadi “Raja Sunda datang ke Majapahit tetapi tanpa seorang putri”, seraya berspekulasi bahwa sang putri turut gugur di Bubat. Padahal, teks asli Pararaton sendiri tidak pernah menyebutkan lokasi pasti wafatnya sang putri.

Selain itu, Pararaton tidak mencantumkan nama atau gelar lengkap Maharaja Sunda tersebut, sehingga menyulitkan sejarawan untuk melakukan identifikasi. Setelah membandingkan Prasasti Kebantenan, Prasasti Batutulis, dan Carita Parahyangan, dalam dugaan yang populer bahwa Maharaja yang gugur di Bubat kemungkinan  adalah ayah dari Niskala Wastukencana.

Di sisi lain, catatan perjalanan Hayam Wuruk dalam Desawarnana menunjukkan bahwa sang raja aktif mengunjungi puluhan daerah antara tahun 1353 hingga 1359 Masehi. Pada tahun 1357 Masehi—saat berusia 23 tahun—Hayam Wuruk mencatatkan perjalanan santai tanpa ada indikasi terjadinya peristiwa besar atau suasana duka nasional.

Meski Desawarnana tak mencatat insiden Bubat, bukan berarti peristiwa itu sama sekali fiktif. Kejadian tersebut sangat mungkin terjadi sebagai bentrokan politik lokal, namun detailnya tidak sedrastis dan setragis yang digambarkan dalam teks-teks kidung belakangan.

Naskah Carita Parahyangan dari abad ke-16 memberikan sudut pandang Sunda yang cukup ringkas: seorang Putri Sunda enggan menikah dengan pria sesama Sunda dan hanya mau menikah dengan pria Jawa. Ia lantas diantar ke tanah Jawa dengan rombongan besar, sebelum kemudian terdengar kabar bahwa rombongan tersebut terlibat bentrok dengan pihak Majapahit. Cerita berhenti di situ—tanpa ada perincian soal “kekejaman Gajah Mada”, mengingat tidak ada saksi mata rombongan Sunda yang tersisa.

Kedua sumber ini pada dasarnya saling melengkapi secara proporsional: Pararaton dari kacamata Jawa, dan Carita Parahyangan dari kacamata Sunda.

Hubungan Sunda–Jawa Pascaperistiwa Bubat

Jika insiden Bubat benar-benar mewariskan dendam kesumat antar-etnis, hal itu seharusnya terekam dalam catatan sejarah setelahnya. Namun, fakta historis justru menunjukkan hal sebaliknya.

Naskah Bujangga Manik dari akhir abad ke-15 menceritakan perjalanan seorang brahmana Sunda yang berkelana melintasi Pulau Jawa. Bujangga Manik—yang fasih berbahasa Jawa—sempat singgah di Bubat dan Majapahit tanpa menyimpan prasangka atau catatan emosional negatif. Wilayah tersebut ia lintasi secara netral layaknya daerah lain.

Memasuki awal abad ke-16, penjelajah Portugis Tomé Pires dalam Suma Oriental mencatat bahwa meski orang Sunda dan Jawa tidak berada dalam satu naungan politik, mereka tidak saling bermusuhan. Hubungan kedua suku lebih menyerupai tetangga dekat yang hidup berdampingan secara harmonis dan transaksional melalui jalur perdagangan.

Suma Oriental bahkan merekam kerja sama militer yang solid: ketika kapal dagang Sunda diganggu bajak laut, pelaut Jawa akan datang membantu mengusirnya. Begitu pula sebaliknya. Kerja sama pragmatis semacam ini mustahil terbentuk jika terdapat sentimen dendam kesumat yang dipelihara secara turun-temurun.

Dari Mana Akar Narasi Mitos Ini?

Mengapa narasi Perang Bubat terasa begitu kelam dan sarat sentimen hari ini? Salah satu akar utamanya diduga kuat berasal dari era kolonial Belanda. Pada masa kolonial, karya sastra seperti Kidung Sunda dan Kidung Sundayana diangkat dan diperlakukan sebagai fakta historis yang mutlak.

Versi tragis ini kemudian dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah-sekolah bentukan Belanda. Di sisi lain, masyarakat awam masa itu tidak memiliki akses untuk menguji keabsahan naskah lontar asli. Akibatnya, narasi tersebut tertanam kuat dalam memori kolektif hingga diwariskan lintas generasi.

Analoginya seperti strategi pemasaran: sesuatu yang diulang-ulang secara masif, lama-kelamaan akan dipercaya sebagai kebenaran (branding). Begitu pula dengan kurikulum kolonial yang mengukuhkan kisah Kidung Sunda sebagai fakta sejarah tanpa tanding.

Secara pribadi, saya melihat insiden di Bubat sekitar tahun 1357 memang pernah terjadi, namun sebatas kesalahpahaman atau gesekan politik lokal—bukan rencana pembantaian keji apalagi motif pembersihan etnis oleh Gajah Mada. Narasi “dosa abadi Gajah Mada” serta mitos larangan pernikahan Jawa–Sunda adalah produk dari dramatisasi sastra belakangan yang kemudian diperkuat oleh kepentingan politik adu domba (devide et impera) pemerintah kolonial.

Refleksi: Jangan Mudah Diadu Domba Narasi Masa Lalu

Insiden Bubat memberikan pelajaran berharga yang sangat relevan untuk Indonesia hari ini: jangan mudah dipecah belah oleh narasi emosional.

Di era media sosial, sepotong informasi—baik tentang “kejahatan masa lalu” maupun mitos etnis—bisa menyebar dan menyulut emosi dalam hitungan detik. Banyak orang langsung tersulut, bersikap defensif, atau saling serang tanpa pernah memverifikasi sumber aslinya. Padahal, sejarah selalu jauh lebih kompleks, abu-abu, dan tidak sedang dangkal versi viralnya.

Mitos larangan nikah Jawa–Sunda bukanlah warisan sakral abad ke-14, melainkan produk konstruksi sosial yang dibumbui bertahap. Persatuan kita sebagai bangsa tidak dibangun dengan cara memanipulasi sejarah, melainkan dengan memahaminya secara jernih, objektif, dan dewasa. Sebelum kita membela atau menyerang atas nama etnis, kelompok, atau sentimen tertentu, tanyakan pada diri sendiri: apa akar masalah yang sesungguhnya?

Di masa lalu, perbedaan dimanfaatkan lewat kurikulum kolonial. Hari ini, pola yang sama berulang lewat algoritma media sosial dan provokasi politik. Pada akhirnya, orang Jawa dan Sunda telah berabad-abad hidup berdampingan secara damai. Yang memisahkan kita hari ini bukanlah darah para leluhur, melainkan narasi mentah yang kita telan bulat-bulat tanpa pernah dikaji dengan akal sehat.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.