apijiwa.id – Wawan Hermawan nama lengkapnya, biasa disapa Ustaz Wawan. Ia adalah seorang relawan khidmah pelosok negeri yang terus bergerak menunaikan amanat dakwah dan sosial ke berbagai pelosok desa di sudut-sudut negeri.
Pergerakan khidmahnya tidak terbatas ruang dan waktu, dalam arti di mana ada umat yang membutuhkan bantuan, di sanalah ia hadir dengan berbagai program khidmahnya. “Semua adalah amanat Allah yang mesti dijalankan secara baik,” ujarnya membuka obrolan dengan apijiwa.id.
Program khidmah yang ia lakukan sebagai relawan dimulai sejak tahun 2009, saat ia bermitra dengan Dompet Peduli Umat Daruut Tauhid (DPU DT)—sekarang Daarut Tauhi Peduli (DT Peduli) sebagai jembatan amal saleh antara donatur dan para duafa yang membutuhkan bantuan.
Ia bergerak secara mandiri tanpa membawa bendera lembaga maupun komunitas, namun di saat mendapatkan amanat dari sebuah lembaga, maka bendera lembaga itulah yang ia kibarkan.
Menurut Ustaz Wawan, target khidmahnya lebih difokuskan ke daerah-daerah pelosok dengan alasan para duafa di pelosok desa sangat jarang tersentuh kegiatan dakwah dan sosial, baik dari lembaga NGO maupun pemerintah.
“Sejak tahun 2023 akhir, saya hijrah dari Garut Selatan ke desa pelosok daerah Cianjur Selatan dengan niat totalitas khidmah,” jelas sang ustaz.
Khidmah Daerah Tanpa sinyal
Saat ini, ia khidmah di sebuah desa terpencil dan tertinggal, bahkan pernah terisolir di Cianjur Selatan, yakni Desa Gelarpawitan, Kecamatan Cidaun, yang sampai saat ini menjadi satu-satunya desa yang belum memiliki jaringan komunikasi atau sinyal.
“Saya tinggal di Desa Gelarpawitan, Kecamatan Cidaun, Cianjur Selatan, untuk melakukan kegiatan membantu umat di berbagai pelosok desa dengan berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan,” tambahnya.
Program-program sosial dan kemanusiaan yang sudah dilakukan sejak ia terjun ke dunia relawan, di antaranya adalah pesantren kilat bersama anak-anak yatim dan duafa; berbagi santunan kepada anak-anak yatim dan duafa, keluarga duafa dan jompo, guru ngaji pelosok negeri, Muslimah tangguh, dan pejuang kemerdekaan.
Ada juga bantuan sosial untuk duafa dalam bentuk pengantaran pasien dan pengobatan gratis, pembangunan rumah duafa, bantuan bencana, tebar qurban pelosok negeri, tebar Al-Qur’an pelosok negeri, pembangunan jembatan, masjid, madrasah, MCK, sumur bor, pipanisasi air bersih, dan berbagai kegiatan dakwah, sosial, dan kemanusiaan lainnya.
Saung Cahaya
Menurut Ustaz wawan, Saung Cahaya YBM PLN merupakan bagian dari instrumen program Desa Cahaya YBM PLN yang diemban selama 3 tahun yang lalu sebagai pendamping Desa Cahaya yang telah berakhir bulan Oktober 2025.
Kini, saung cahaya YBM PLN Desa Gelarpawitan menjadi rumah singgah bagi para pejuang ukhuwah sekaligus sebagai basecamp bagi para relawan dalam mengatur strategi dakwah, sosial, dan kemanusiaan, di wilayah Cianjur Selatan.
Dari saung cahaya ini, pergerakan khidmah tidak hanya terbatas wilayah Cianjur Selatan saja, namun juga untuk wilayah lainnya tanpa batas.
“Sehingga dari Saung Cahaya ini, Allah takdirkan pernah menghadirkan Syeikh Palestina dan berhasil menghimpun donasi sejumlah Rp 55.004.500 sebagai Tanda Cinta dari Desa untuk Palestina,” imbuh pria yang tak kenal lelah berjuang untuk kepentingan masyarakat.
Bagi Ustaz Wawan, meski tinggal dan khidmah di desa terpencil, namun pergerakan dakwah, sosial, dan kemanusiaannya tidak terbatas ruang dan waktu. Pernah, ia beserta rekannya melakukan kegiatan tebar Al-Qur’an dan berbagi santunan untuk anak-anak santri yatim dan duafa selama 6 hari keliling ke berbagai pelosok di tujuh kabupaten di Jawa Tengah.
Untuk membuktikan kepedulian terhadap korban bencana Sumatera dan Aceh, ia juga berinisiatif membuka donasi Tanda Cinta dari Desa untuk Sumatera dan Aceh. “Alhamdulillah donasi yang terkumpul sudah kami salurkan, walau nominalnya tidak besar,” jelasnya.
Meninggalkan Kemapanan Duniawi
Program Desa Cahaya YBM PLN telah berakhir pada bulan Oktober 2025. Semua aset dan instrumen programnya kini menjadi salah satu modal dasarnya melakukan kegiatan dakwah, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan kemanusiaan, yang dijalankan secara mandiri.
Banyak orang yang menyayangkan ketika ia memilih hijrah ke Desa Gelarpawitan, karena saat ia tinggal di Garut Selatan, secara duniawi boleh dibilang sudah mapan. Memiliki tempat tinggal yang cukup luas, bahkan dijadikan sebagai rumah singgah dan basecamp kegiatan sosial dan kemanusiaan. Kendaraan punya, juga perusahaan.
“Namun, panggilan khidmah mengalahkan segalanya, sehingga semua aset di Garut Selatan kami lelang dan kami hijrah ke Desa Gelarpawitan dengan niat totalitas khidmah,” tegasnya.
Kini Ustaz Wawan tinggal di sebuah desa yang pernah terisolir selama empat tahun, desa terpelosok dan terpencil, infrastruktur masih sangat terbatas, bahkan sampai saat ini belum ada sinyal. Tidak ada pasar, ke sekolah jauh, bahkan untuk sekedar membeli pampers harus keluar dengan jarak puluhan kilometer.
“Saya hadir di desa ini dengan membawa berbagai niat kebaikan, walau pada kenyataannya tidak semua orang bisa menerimanya, menjadi jembatan antara aghniya’ dan duafa yang ada di berbagai pelosok desa,” tuturnya penuh semangat.
Berbagai keterbatasan dalam perjalanan khidmah di desa ini menjadi ujian yang cukup berat, terutama untuk dirinya sendiri dan keluarganya, yang tidak biasa hidup dengan segala keterbatasan. Ternyata, Allah mampukan tetap bertahan dengan berbagai amanat sosial dan kemanusiaan yang terus Allah hadirkan di pundaknya.
“Saya hanya memiliki modal keyakinan kepada Allah bahwa tidaklah Allah membebani kami melainkan Allah akan mampukan, walaupun secara lahiriah kondisi kami dalam keadaan sempit sekalipun. Namun, di balik semua ini, Allah karuniakan nikmat besar dengan hadirnya orang-orang baik ke desa ini dengan berbagai niat baiknya,” tuturnya lagi.
Ustaz Wawan sangat berterimakasih kepada siapa pun yang telah membantu perjuangannya. Ia mendoakan semoga Allah karuniakan balasan nikmat yang sempurna di dunia dan akhirat, dimudahkan segala urusannya, dan Allah balas dengan pahala tiada terbatas hingga mengantarkan mereka ke dalam istana surga-Nya.
“Doakan kami yang Allah takdirkan tinggal untuk berkhidmah di tempat ini,” pungkasnya penuh harap.











