Advertisement

apijiwa.id – Mencari sebuah kenangan terkadang serumit memburu harta karun di tumpukan buku loak. Perjalanan ini bermula dari kerinduan saya pada sebuah buku bersampul biru karya budayawan Semarang, Djawahir Muhammad, yang berjudul “Semarang Sepanjang Jalan Kenangan”.

Buku terbitan 1996 itu sempat hilang dari rak saya, hingga akhirnya takdir mempertemukan saya kembali melalui edisi revisi tahun 2011. Di dalamnya, tersimpan sebuah catatan emosional bertajuk Sepanjang Jalan “Kenyangan”, sebuah narasi yang memotret bagaimana sebuah kota mendefinisikan dirinya melalui rasa.

Mari kita memutar waktu, menjadi “penumpang” dalam perjalanan menyusuri sudut-sudut Kota Atlas era 1990-an. Kita akan melihat Semarang bukan sekadar dari peta, melainkan dari kepul asap dan aroma yang menguar di pinggir jalannya.

Pisang Plenet dan Simfoni Arang Mlanding

Di bawah pendar lampu jalan Semarang tahun 90-an, kepul asap dari anglo Pisang Plenet adalah pertunjukan seni yang menuntut presisi. Penganan ini bukan sekadar pisang bakar; ia adalah hasil kurasi bahan yang sangat spesifik.

Djawahir Muhammad mencatat bahwa kelezatan yang otentik hanya bisa dicapai dengan menggunakan Pisang Raja ‘Gondoroso’ yang benar-benar masak hingga sari madunya mengintip keluar saat ditekan atau diplenet.

Namun, rahasia estetikanya terletak pada apa yang membara di bawah tungku. Penjual kawakan pantang menggunakan sembarang kayu. Mereka setia pada arang pohon petai cina atau mlanding.

Arang ini dipilih karena sifatnya yang bersih dan kemampuannya mengeluarkan suara pating plethik (gemertak merdu) saat membara, memberikan sentuhan rasa yang disebut masyarakat setempat sebagai lekker koss.

“Pisang yang gepeng empuk dan hangat itu ditaburi sedikit cokelat, stroberi, dan gula, lalu dilumuri mentega, kemudian diangkat dari oven. Rasanya ditanggung tidak luntur, sungguh-sungguh lekker koss kata orang Semarang, apalagi kalau disantap selagi masih hangat bin kebul-kebul,” tulis Djawahir Muhammad.

Detail kecil seperti suara gemertak arang mlanding ini mengingatkan kita bahwa kuliner legendaris bukan hanya soal resep, melainkan tentang kesetiaan pada proses yang kini mulai luntur oleh kepraktisan teknologi modern.

Bahaya Tersembunyi di Balik Gurihnya ‘Gelek’

Jika bolang-baling pada umumnya dikenal karena teksturnya yang ringan dan berongga (kopong), Semarang era 90-an memiliki varian yang jauh lebih “berbahaya” bagi kapasitas perut: Gelek. Berbeda dengan saudaranya yang murni berbahan gandum, Gelek adalah hibrida yang padat karena campuran tepung gaplek dari singkong.

Bagi anak-anak SD tahun 90-an yang uang sakunya pas-pasan, Gelek adalah penyelamat sekaligus tantangan. Ada sebuah “urban myth” atau peringatan nyata yang selalu menyertai penganan ini: dilarang keras minum air terlalu banyak setelah menyantap Gelek. Sifat tepung gaplek yang reaktif akan membuat Gelek mengembang seketika di dalam usus, mengakibatkan kondisi kemlekeren atau rasa kenyang luar biasa yang menyiksa.

Meski meninggalkan sensasi seret di tenggorokan, Gelek tetap menjadi primadona karena kemampuannya memberikan energi ekstra dengan harga murah meriah. Ini adalah bukti kecerdikan kuliner rakyat dalam menciptakan rasa kenyang yang efisien namun tetap gurih di lidah.

Tradisi Idulfitri: Kejujuran dalam Kuping Gajah dan Tai Kucing

Masyarakat Semarang memiliki selera humor yang lugu sekaligus berani dalam menamai penganan mereka. Hal ini paling tampak pada koleksi kue kering spesial Lebaran. Di meja-meja tamu era 90-an, selain emping mlinjo, onde-onde ceplis, dan kacang goreng, selalu hadir “tiga bersaudara” yang ikonik: Kuping Gajah, Kuping Tikus, dan Tai Kucing.

Nama-nama ini diambil dari kemiripan visual yang jujur tanpa polesan istilah asing. Kuping Gajah berbentuk pipih lebar, Kuping Tikus lebih mungil, dan Tai Kucing berbentuk bulat-panjang dengan ujung lancip yang menyerupai kotoran kucing. Keberanian memberikan nama yang mungkin terdengar “ekstrem” bagi telinga modern ini sebenarnya mencerminkan keakraban masyarakat tradisional dengan alam sekitarnya.

Refleksi ini menyadarkan kita bahwa di masa lalu, identitas sebuah makanan tidak membutuhkan strategi pemasaran yang rumit—cukup dengan kemiripan bentuk dan rasa yang jujur untuk membuatnya abadi dalam memori kolektif.

Bir Temulawak: ‘Energy Drink’ Para Abang Becak

Jauh sebelum pasar dibanjiri minuman energi dalam kemasan plastik, Semarang memiliki “Bir Semarang” atau Bir Temulawak. Meski namanya mengandung kata “bir”, ini adalah ramuan herbal non-alkohol yang dijual oleh para pedagang gilo-gilo. Minuman ini berfungsi sebagai penambah tenaga bagi kaum pekerja kasar, terutama para abang becak yang harus bertarung dengan terik matahari Kota Atlas.

Namun, lanskap minuman tradisional ini kini kian sunyi. Minuman penghangat seperti wedang tahu dan wedang jun (wedang blung) yang dulu akrab di telinga, kini nyaris dilupakan. Pergeseran ini diikuti dengan munculnya minuman yang lebih keras seperti Anggur Kolesom Cap Orangtua, hingga cong yang—yang pada akhirnya dilarang beredar secara bebas karena kadar alkoholnya yang berlebihan.

“Dulu, waktu belum banyak obat kuat atau ginseng, bir temulawak yang biasa dijual para penjual gilo-gilo pernah menjadi minuman favorit penambah tenaga, khususnya bagi para abang becak yang tipis kantongnya,” tulis Djawahir Muhammad.

Hilangnya Bir Temulawak dan wedang-wedangan spesifik ini menandai berakhirnya era di mana kebugaran fisik didapatkan dari kearifan lokal yang murah dan menyehatkan, kini berganti menjadi komoditas industri yang lebih impersonal.

Jalan Gajahmada: Evolusi Menjadi Koridor ‘Kenyangan’

Dalam catatan Djawahir Muhammad, Jalan Gajahmada telah bertransformasi total menjadi sebuah “Jalan Kenyangan”. Mulai dari Tahu Pong Pak Man yang legendaris hingga berdirinya Semarang Food Court di bekas gedung bioskop Manggala, jalan ini menjadi titik temu selera Timur dan Barat.

Fenomena ini semakin diperkuat dengan kepadatan pusat oleh-oleh di Jalan Pandanaran. Ikon Semarang sebagai Kota Bandeng Presto terlihat dari vision atau pemandangan barisan mobil dengan pelat nomor dari seluruh penjuru Indonesia yang parkir mengular hingga sepanjang satu kilometer—mulai dari perempatan Bergota hingga Tugumuda.

Sementara itu, Simpang Lima tumbuh menjadi melting pot kuliner Nusantara, mulai dari nasi gandul Pati hingga soto Makassar. Daya makan masyarakat Semarang yang sangat kuat membuat setiap tempat baru, mulai dari warung penyetan yang cengli (masuk akal harganya) hingga restoran internasional, akan selalu dipadati pengunjung.

Modernitas vs Tradisi yang ‘Ngangeni’

Di akhir catatannya, Djawahir Muhammad memberikan perenungan mendalam tentang persaingan antara gemerlap hotel modern seperti Novotel dan Gumaya dengan pasar-pasar tradisional yang kian menua. Meski kalah dalam kemewahan fisik dan pendingin ruangan, pasar seperti Peterongan, Bulu, dan Karangayu, memiliki satu hal yang tak bisa dibeli: aspek manusiawi.

Pasar tradisional adalah ruang untuk nyang-nyangan (tawar-menawar) dan obrolan ngalor-ngidul yang akrab. Ada aroma khas pedagang yang mungkin “kecut” karena keringat, namun rasa kekeluargaan dan kejujuran itulah yang membuat pasar tradisional tetap ngangeni. Transaksi di sana bukan sekadar pertukaran uang, melainkan pertukaran empati.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.