Advertisement

apijiwa.id – Mari kita memutar kembali jarum jam menuju Semarang di awal dekade 1960-an. Kota ini bukan sekadar titik administratif di Jawa Tengah, melainkan sebuah kuali besar di mana berbagai helai budaya—Arab, Eropa, dan Tionghoa—berjalin membentuk mozaik rasa yang kompleks. Dalam transisi dari era kolonial menuju fajar kemerdekaan, lanskap gastronomi Semarang menyimpan narasi yang lebih dalam daripada sekadar pemuas lapar.

Jejak-jejak sosio-kultural ini terekam dengan apik dalam buku Pedoman Tamasja Djawa Tengah (1961) karya R.O. Simatupang. Karya ini bukan sekadar panduan perjalanan, melainkan dokumen berharga yang memetakan identitas kota melalui selera lidahnya. Mari kita membedah sejumlah fakta unik yang membentuk “DNA gastronomis” Semarang enam dekade silam, yang termaktub di buku ini.

Bioskop Sebagai Titik Temu Sosio-Kultural

Pada tahun 1960-an, gedung bioskop bukan sekadar tempat menonton film, melainkan episentrum kehidupan sosial yang menarik para pengusaha boga terbaik untuk menjajakan keahlian mereka. Menonton bioskop dan menikmati hidangan legendaris adalah ritual yang tak terpisahkan, menciptakan sebuah ekosistem kuliner yang berdenyut di halaman dan pelataran parkir.

Berdasarkan catatan sejarah, beberapa lokasi spesifik menjadi saksi bisu kejayaan ini:

  • Tahu Pong: Penganan ikonik ini tersebar di beberapa titik strategis, mulai dari Cafe Peloran di wilayah Jagalan (halaman bioskop), di depan bioskop Murni (Lux) wilayah Seteran, hingga gerobak dorong di Peloran (antara Jalan Depok dan Jalan Gajahmada) serta di Jalan Pringgading dekat bioskop Gelora.
  • Nasi Pindang: Di malam hari, hidangan khas ini menjadi primadona di depan bioskop Orion, area Alun-alun. Selain itu, Nasi Pindang juga dapat ditemukan di Mataram (Ambengan) depan Jalan Sidorejo.
  • Sate Kambing: Area Kapuran menjadi sangat termasyhur berkat sate kambing di halaman bioskop Grand yang biasanya sudah ludes pada siang hari.
  • Sup Buntut dan Sate Kambing Murni: Bagi mereka yang melakukan perjalanan ke arah Ungaran, Rumah Makan Murni di Jatingaleh (pinggir kota) menjadi perhentian wajib yang dikenal dengan daging satenya yang empuk.
  • Masakan Jawa: Restoran Tjimahi di Jalan Mataram berdiri gagah tepat di depan bioskop Gelora, menyajikan kehangatan masakan rumahan bagi para penonton.

Eksklusivitas Musiman Burung Blekek

Di masa lalu, kemewahan kuliner tidak selalu ditentukan oleh harga, tetapi oleh ritme alam. Hidangan Blekek adalah bukti nyata bagaimana masyarakat Semarang menghargai siklus musim. Menu ini menyandang status sangat eksklusif karena hanya tersedia pada bulan ketiga menurut kalender Imlek—sebuah periode yang kemungkinan besar berkaitan dengan pola migrasi burung atau siklus panen tertentu.

Sajian ini terdiri dari daging burung Blekek yang ditusuk menyerupai sate, namun keistimewaannya tidak berhenti di sana. Hidangan ini disajikan berdampingan dengan telur burung yang didatangkan khusus dari Demak. Kombinasi ini menciptakan sebuah standar fine dining tradisional yang sangat dinanti, di mana kelangkaan alamiah memberikan nilai prestise tersendiri bagi para penikmatnya.

Diplomasi Rasa yang Menembus Ibukota

Popularitas cita rasa Semarang pada era 1960-an telah melampaui batas administratif kota, melakukan “diplomasi rasa” hingga ke Jakarta. Kelezatan Tahu Pong Semarang telah lama menembus lidah warga ibukota secara umum. Namun, yang lebih spesifik adalah ketenaran Sate Kapuran yang berhasil membangun reputasi legendaris di dekat Pasar Cikini, Jakarta.

Besarnya pengaruh kuliner Semarang juga terlihat dari profil sosial para penikmatnya. Fenomena ini terekam jelas dalam catatan mengenai warung Soto Kudus di Jurnatan:

“Yang paling laris ketika itu adalah Soto Kudus yang dijual di stasiun Jurnatan (Jalan Agus Salim) depan rumah gadai… banyak mobil berjejer saat warung soto tersebut buka. Biasanya jam 11 sudah terjual habis.”

Kehadiran “mobil yang berjejer” di depan warung soto pada tahun 1961 bukan sekadar detail pemanis, melainkan indikator sosio-ekonomi yang penting. Hal ini menunjukkan bahwa kuliner lokal telah menjadi destinasi bagi kelas menengah-atas dan kaum elit baru Indonesia saat itu.

Ekosistem Kuliner Gang Lombok: Lebih dari Sekadar Lunpia

Meskipun Lunpia telah lama menjadi wajah kuliner Semarang, area Kelenteng Gang Lombok pada tahun 1960-an sebenarnya merupakan sebuah ekosistem jajanan yang jauh lebih kompleks. Area kelenteng berfungsi sebagai titik temu budaya sejak zaman penjajahan, di mana tradisi Tionghoa berakulturasi dengan selera lokal melalui tangan para pedagang kecil.

Di depan pintu masuk kelenteng, pengunjung akan disambut oleh deretan penganan yang telah eksis selama puluhan tahun:

  • Jajanan Tradisional: Bolang-baling, cakwe, dan untir-untir yang hangat.
  • Hidangan Utama: Bakmi pangsit, tahu bak, mie titee, dan aneka masakan Tionghoa lainnya.

Eksistensi tempat-tempat seperti Kit Wan Kie di Gang Pinggir (terkenal dengan babi panggangnya sejak zaman Belanda) dan Lo San di Jalan Mataram (populer sejak sebelum Perang Dunia II dengan capjay gorengnya) menegaskan konsistensi rasa yang mampu bertahan melewati badai sejarah, mulai dari era kolonial, pendudukan Jepang, hingga masa kemerdekaan.

Merawat Ingatan Lewat Lidah

Menelusuri peta kuliner Semarang tahun 1960-an adalah perjalanan untuk memahami bagaimana sebuah kota merawat identitasnya. Dari bioskop yang menjadi pusat interaksi sosial hingga menu musiman seperti Blekek yang menghormati siklus alam, setiap hidangan adalah lembaran sejarah yang hidup. Meski banyak tengara fisik yang kini telah berganti rupa atau tinggal kenangan, “gastronomic DNA” Semarang tetap mengalir kuat dan menjadi identitas kota yang tak tergantikan.

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: Redaksi Apijiwa.id

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.