apijiwa.id – Indonesia punya dua jenis pahlawan: yang patungnya berdiri gagah di alun-alun dan yang karyanya berdiri gagah di rak-rak perpustakaan. Goenawan Mohamad (GM), pendiri Tempo, masuk kategori kedua, walau kalau dibuatkan patung pun mungkin ia minta dituliskan catatan kaki.
Ia adalah jenis manusia yang jika bicara pelan terasa seperti kuliah umum dan jika menulis pendek terasa seperti kitab suci edisi esai. Dalam jagat pers Indonesia, GM adalah kompas moral yang kadang tertawa dulu baru menunjuk arah. Dan dalam hal keberanian, ia sering disebut cucu spiritual dari Medan Prijaji.
Mengapa cucu spiritual? Karena Tirto Adhi Soerjo memulai jurnalisme advokasi dengan gaya menusuk langsung seperti tusuk sate, sementara GM melanjutkannya dengan pisau analisis yang tajam tapi berkilau seperti pisau dapur ibu-ibu pagi hari.
Medan Prijaji dulu membongkar skandal kolonial sampai pejabatnya panas-dingin seperti setrika listrik, sementara Tempo di tangan GM membongkar skandal modern sampai para penguasa sibuk mencari tombol mute untuk pers. Jadi, dua tokoh ini sama: sama-sama bikin penguasa tidak bisa tidur nyenyak.
Peran GM dalam jurnalistik seperti AC di kamar kos—kalau lagi bekerja, semua orang merasa lega; kalau tiba-tiba dicabut, semua mendadak gerah politik. Ia membawa teori publisistik ke ruang publik tanpa membuat orang menguap.
Dalam pandangan Prof. Atmakusumah Astraatmadja, pakar pers nasional, GM adalah contoh bagaimana esai bisa menjadi korektor moral tanpa suara tinggi. Pendapat itu masuk akal: tulisan GM sering kalem, tapi efeknya seperti alarm darurat di gedung DPR—membuat orang menoleh dan merasa panas di dalam.
Dalam teori publisistik klasik, pers memiliki tiga fungsi: memberi informasi, memberi kritikan, dan membentuk opini publik. GM menambah fungsi keempat: memberi hiburan intelektual.
Dengan gaya humor semihalus, ia memecah batu politik menjadi remah-remah yang bisa dikunyah pembacanya. Kadang, satu tulisannya lebih efektif daripada seminar empat jam dengan salindia PowerPoint 300 halaman. Bahkan mahasiswa komunikasi menyebut GM sebagai “pemberi kuliah gratis via kolom.”
Yang membuat GM unik adalah kemampuannya mengubah kalimat sederhana menjadi benda bermuatan filsafat. Misalnya, ketika ia membahas kekuasaan, rasanya seperti sedang membaca buku tebal tetapi tanpa pusing, karena dicampur humor yang pas—bukan humor badut, tapi humor yang membuat kita merasa pintar setelah tertawa. Beda tipis dengan medsos: banyak yang lucu, tapi jarang yang mendewasakan.
Di dunia publik, GM bukan sekadar penulis; ia adalah penjaga pagar kewarasan. Dalam sejarah panjang Tempo—dari dibredel, dibuka, dibredel lagi—GM menunjukkan bahwa kata-kata tidak bisa dipenjara.
Kalau tulisan punya kaki, kata GM dalam satu wawancara, ia akan berjalan ke mana pun ia mau. Kalimat itu terdengar puitis, tapi juga ancaman halus bagi rezim yang ingin menyembunyikan bau busuk. Tentu saja, para penguasa tidak selalu nyaman dengan model jurnalisme seperti itu. Tapi pers memang tidak diciptakan untuk jadi bantal kekuasaan.
Dalam kajian publisistik, pers idealnya menjadi watchdog, bukan lapdog. GM jelas memilih peran pertama. Jika Tempo adalah anjing penjaga, maka gonggongannya sering membuat politikus merasa sedang dikejar nilai rapor.
Walau begitu, GM tidak pernah tampil garang. Ia lebih mirip profesor santai di kafe, menyeruput kopi hitam sambil menjelaskan skandal negara seperti sedang menganalisis puisi.
Dan di sinilah daya tariknya: berat, tapi tidak membuat pusing. Bahkan jika ia menjelaskan krisis demokrasi sambil mengunyah kacang rebus, para pembacanya tetap merasa tercerahkan.
Hubungan GM dengan sejarah pers Indonesia ibarat hubungan cucu dan kakek yang kompak. Jika Tirto dulu menulis dengan mesin ketik panas karena mengejar tenggat, GM menulis dengan laptop sambil mengejar kecemasan publik.
Tirto melawan kolonialisme, GM melawan kebiasaan lama yang terus menempel: korupsi, manipulasi, dan keinginan kekuasaan untuk selalu benar. Beda zaman, tapi masalahnya tetap sama: kekuasaan sulit diajak bercermin.
Menurut Ignatius Haryanto, peneliti media dari LPDS, GM adalah salah satu jangkar moral dalam sejarah pers kita. Pernyataan itu bukan pujian kosong, sebab karya GM mengubah cara jurnalis melihat peran mereka: bukan sekadar penulis berita, tapi penjaga ruang publik. Dan itu membuatnya semakin mirip dengan Tirto—dua tokoh yang sama-sama dianggap menyusahkan bagi pemerintah yang terlalu nyaman.
Jika dipikir-pikir, tradisi jurnalisme kritis Indonesia adalah kisah panjang ketegangan kreatif antara pena dan kekuasaan. Tirto memulai bab pertamanya. GM melanjutkan bab berikutnya dengan gaya yang lebih modern—lebih tertata, tapi tetap tajam. Bila Medan Prijaji dulu melawan pejabat yang menetek monyet, Tempo kemudian melawan pejabat yang hobinya mengatur narasi.
Pada akhirnya, GM mengajarkan satu hal penting: bahwa kata-kata bisa menjadi cahaya sekalipun dunia sedang gelap. Dan tugas pers bukan membuat penguasa nyaman, tetapi membuat rakyat melek.
Dalam tradisi Medan Prijaji dan Tempo, jurnalisme adalah seni merapikan kekacauan, menegur yang salah, dan sesekali—membuat kita tersenyum sambil merenung. Sebab, seperti kata GM: Humor adalah cara manusia tetap waras menghadapi kekuasaan yang sering tidak masuk akal.
GM sebagai penulis yang bermain di wilayah ide tanpa kehilangan pijakan moral. Catatan Pinggir—sebagai contoh jurnalisme yang menggabungkan filsafat, humanisme, dan ketelitian bahasa, sehingga membuat opini terasa seperti esai sastra yang berjalan elegan.- Ignas Kleden.
Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas












