apijiwa.id – Selain tersohor karena keindahan pantainya, Kebumen ternyata menyimpan memori peradaban kuno yang kental akan nilai budaya. Salah satu bukti autentik pengaruh Hindu-Buddha di sini adalah Situs Lingga Yoni Sumberadi.
Meski kerap melintasi Kebumen saat mudik, saya baru menyadari keberadaan situs era klasik yang nampaknya masih kurang mendapat perhatian publik (underrated) ini. Padahal, situs yang berlokasi di Desa Sumberadi tersebut merupakan kunci penting untuk membedah sejarah religi dan tatanan sosial masyarakat lokal di masa lampau.
Mengawali tahun 2026, saya memutuskan untuk mengeksplorasi destinasi yang jarang terjamah: Situs Lingga Yoni Sumberadi di Kebumen. Aksesnya cukup mudah; jika dari arah Purworejo, Anda cukup berkendara lurus ke arah barat hingga masuk wilayah Kebumen, lalu berbelok ke utara.
Saat itu, saya berangkat dari Kecamatan Klirong dan langsung menuju Desa Sumberadi, lokasi yang juga bertetangga dengan Pondok Pesantren Somalangu—pesantren yang diyakini tertua di Jawa Tengah.
Setibanya di sana, saya sempat terkesima melihat situs klasik ini berdiri tegak di tengah permukiman warga, tepat di samping fasilitas pendidikan. Nuansa kulturalnya terasa sangat kental. Di sana, saya menjumpai benda cagar budaya berupa dua yoni dan empat lingga patok.
Dalam filosofi Hindu, lingga adalah representasi Dewa Siwa, sementara yoni merupakan simbol Dewi Parwati. Perpaduan keduanya melambangkan persatuan energi maskulin dan feminin, sebuah pesan mendalam bahwa alam semesta lahir dari keharmonisan dua elemen yang berbeda.

Di Situs Sumberadi, saya menemukan kondisi fisik yang cukup unik: yoni yang ada di sana tidak lagi menyatu dengan lingga pasangannya. Alih-alih lingga sejati, objek yang tertanam di sekeliling yoni tersebut adalah lingga patok yang berfungsi sebagai pembatas wilayah atau tanda batas tanah.
Secara filosofis, Lingga-Yoni merupakan elemen krusial dalam bangunan suci bercorak Siwa. Merujuk pada pemikiran Sunoto dalam jurnal Bahasa dan Seni (2017), keberadaan Lingga-Yoni adalah penanda penting peradaban masyarakat Jawa di bawah pengaruh kerajaan Hindu.
Hal ini tidak lepas dari dinamika sejarah abad ke-8 Masehi, saat kasta ksatria dan waisya dari India menjalin hubungan dagang yang kuat di Asia Tenggara, termasuk Jawa. Bahkan jauh sebelumnya, jejak kerajaan Hindu telah tercatat di Kalingga, Jepara, hingga akhirnya masa keemasan pemerintahan Hindu ini ditandai dengan runtuhnya Majapahit.
Berdasarkan hasil ekskavasi yang dilakukan oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kebumen pada tahun 2025, ditemukan sisa-sisa struktur bata merah di bawah tanah yang mengindikasikan bahwa lokasi ini dulunya adalah tempat pemujaan Siwa.
Secara periodisasi, situs ini diduga kuat merupakan peninggalan masa Mataram Kuno (abad ke-8—10 M). Temuan ini menempatkan Situs Sumberadi dalam garis waktu yang sama dengan pembangunan candi-candi besar seperti Borobudur, Pawon, Sambisari, dan Ngempon.
Keunikan Situs Lingga Yoni Sumberadi semakin nyata dengan keberadaan dua yoni yang letaknya terpisah di sisi barat dan timur. Saat mendekati yoni kedua yang ukurannya lebih besar, perhatian saya langsung tertuju pada sebuah detail artistik di bawah bagian ceratnya. Benar saja, di sana terukir ragam hias yang indah berupa motif naga, padma (bunga teratai), dan bulus.

Kejutan tidak berhenti di situ; saya juga menjumpai sisa-sisa fondasi bangunan kuno di sekitar lokasi. Merujuk pada data ekskavasi, terdapat susunan bata merah kuno berukuran 20 x 10 x 40 cm yang tertata rapi.
Melihat struktur sedemikian rupa, muncul dugaan kuat bahwa tempat ini dulunya adalah sebuah bangunan suci atau candi. Tentu ini sebuah hipotesis menarik—karena tanpa mesin waktu, sisa-sisa bata inilah yang menjadi “saksi bisu” paling jujur dari masa lalu.
Temuan fondasi bangunan kuno pasca-ekskavasi seolah memperkuat dugaan saya bahwa tempat ini dulunya merupakan pusat pemujaan Dewa Siwa. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Sumberadi di masa lampau memiliki akar tradisi Hindu-Siwa yang sangat kuat.
Senada dengan hal tersebut, Teguh Hindarto dan Chusni Ansori dalam Jurnal Analisa Sosiologi (2020) menegaskan bahwa keberadaan artefak di sini menjadi bukti hunian masyarakat Hindu kuno dengan tatanan sosial dan ekonomi yang sudah cukup maju pada zamannya.
Menariknya, di desa yang sama kini berdiri Pondok Pesantren Somalangu, yang diyakini sebagai pesantren tertua di Jawa Tengah. Didirikan oleh Syech Abdul Kahfi, seorang ulama asal Yaman pada masa awal syiar Islam di Jawa, kehadiran pesantren ini menandai transisi spiritual yang damai.
Bahkan, tradisi lisan setempat mengisahkan bahwa sang ulama tidak hanya membangun pesantren, tetapi juga berhasil mengislamkan tokoh Resi (pemuka agama Hindu) yang dihormati di wilayah tersebut.
Di tengah dunia yang sering kali terfragmentasi oleh perbedaan, Situs Sumberadi hadir sebagai pengingat bahwa identitas kita hari ini berpijak pada fondasi toleransi yang sangat kuat. Kita belajar bahwa merangkul keyakinan masa depan tidak harus dilakukan dengan melenyapkan jejak masa lalu.
Menjaga situs ini bukan sekadar melestarikan tumpukan bata dan batu, melainkan merawat kesadaran bahwa keberagaman adalah akar yang memperkokoh kita. Layaknya filosofi Lingga dan Yoni tentang keseimbangan alam, sejarah Sumberadi mengajak kita untuk terus merajut harmoni, saling menghargai, dan tetap berpijak pada warisan luhur nenek moyang.














