Advertisement

apijiwa.id — Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Semarang menyerahkan bantuan 15 kaki palsu kepada warga penyandang disabilitas. Penyerahan bantuan secara langsung dilakukan oleh Kepala Dinsos Kabupaten Semarang, Istiqomah, di aula Dinsos setempat pada Selasa (18/8/2026).

“Bantuan kaki palsu ini bersumber dari APBD Kabupaten Semarang Tahun Anggaran 2026 dengan total nilai mencapai Rp135 juta, atau sekitar Rp9 juta untuk setiap unitnya. Hari ini, 15 kaki palsu tersebut langsung diserahkan kepada para penerima,” ujar Istiqomah.

Ia menjelaskan, proses penyaluran bantuan berawal dari usulan masyarakat. Pihak Dinsos kemudian turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi data, peninjauan kondisi calon penerima, hingga penetapan penerima bantuan secara tepat sasaran.

“Setelah ditetapkan, Dinsos mendatangkan produsen kaki palsu untuk melakukan pengukuran khusus sesuai kebutuhan kondisi fisik masing-masing penerima. Pengukuran dilakukan sebulan lalu, dan hari ini dilanjutkan dengan proses fitting atau pemasangan. Jika ada yang merasa belum pas, teknisi akan langsung melakukan penyesuaian di tempat,” jelasnya.

Para penerima bantuan merupakan warga yang diusulkan melalui petugas lapangan, khususnya Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK). Adapun sebarannya meliputi: Kecamatan Pringapus 3 orang; Kecamatan Bancak, Suruh, dan Ungaran Timur masing-masing 2 orang; dan Kecamatan Bergas, Pabelan, Kaliwungu, Ungaran Barat, dan Ambarawa masing-masing 1 orang

Program ini menjadi wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Semarang dalam mendukung penyandang disabilitas agar dapat kembali beraktivitas secara mandiri. Pada anggaran perubahan tahun 2026, Dinsos berencana menambah 6 unit kaki palsu untuk mengakomodasi usulan warga yang baru masuk. Sebagai informasi, Dinsos telah menyalurkan 10 unit kaki palsu pada tahun 2025 lalu dan memastikan program serupa tetap berlanjut di tahun 2027.

Salah satu penerima bantuan, Mariyono (53), warga Desa Jombor, Kecamatan Tuntang, mengungkapkan rasa syukurnya usai menerima alat bantu tersebut.

“Terus terang saya sangat bersyukur. Saya kehilangan kaki akibat kecelakaan kerja. Semoga dengan kaki palsu ini saya bisa kembali berjalan dengan normal,” tutur Mariyono.

Sementara itu, TKSK Ungaran Timur, Ary Prasetyawan, menegaskan bahwa pendampingan tidak berhenti setelah penyerahan unit. Para penerima bantuan tetap dapat berkoordinasi dengan petugas TKSK selama masa penyesuaian penggunaan kaki palsu.

“Pendampingan ini penting agar penerima bantuan bisa beradaptasi dan merasa nyaman saat menggunakannya untuk aktivitas sehari-hari. Pada prinsipnya, seluruh tim TKSK siap membantu,” pungkas Ary.

Facebook Comments Box

Penulis: Heru SantosoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.