Advertisement

apijiwa.id – Selepas Zuhur, Eulis Fatimah memperhatikan anak-anak asuhnya di Panti Asuhan Hikmah Mufakir Istiqomah di Jalan Rajawali Timur, Gang Budi Darma No 88/26 RT 10 RW 03, Ciroyom, Kota Bandung, dengan penuh kasih sayang. Tatapan tulusnya mencerminkan dedikasi bagi anak yatim piatu dan mereka yang kurang beruntung.

Perjuangan mengelola panti ini merupakan amanah dari almarhum suaminya, Suparno Suhud, yang dahulu juga seorang yatim piatu. Motivasi almarhum sangat sederhana namun mulia: ia tidak ingin ada anak-anak bernasib sama yang harus menderita karena kelaparan atau putus sekolah.

Eulis mengisahkan perjuangan suaminya yang merantau dari Cepu (Blora) dengan bekal seadanya. Sebelum berhasil mendirikan panti, suaminya sempat melakoni berbagai pekerjaan, mulai dari berjualan bakso, menjadi tukang kredit, hingga menjadi preman terminal. Namun, kerasnya hidup tidak melunturkan kepeduliannya terhadap anak yatim.

Saat ini, pembangunan asrama di Jalan Jambal, Bandung, masih terhambat biaya dan baru mencapai tahap pengecoran. Eulis menjelaskan bahwa asrama di Gang Budi Darma diperuntukkan bagi anak perempuan dan siswa di bawah kelas 5 SD, sementara asrama di Jalan Jambal difungsikan untuk anak-anak yang lebih besar sekaligus tempat usaha sembako.

Ia pun membuka pintu bagi siapa saja yang ingin menyumbangkan material bangunan untuk kelanjutan pembangunan tersebut. “Ya untuk pembangunan masih membutuhkan berbagai material bangunan. Bagi yang mau menyumbang, boleh apa saja, tinggal menghubungi saja terkait kebutuhan material bangunan yang paling urgen,” tegasnya.

Saat ini, Eulis mengasuh 34 anak dengan jenjang pendidikan yang bervariasi, mulai dari TK hingga bangku kuliah di berbagai universitas ternama seperti STAI Siliwangi, IKIP Siliwangi, Universitas Nurtanio, dan Universitas Muhammadiyah Bandung. Untuk memenuhi kebutuhan harian, setidaknya diperlukan biaya Rp500.000 setiap harinya, atau sekitar Rp15 juta setiap bulannya. Eulis pun senantiasa bersyukur karena rezeki selalu hadir berkat doa dan kedatangan para dermawan.

Alhamdulillah rezekinya selalu ada saja dan kami pun terus berdoa agar banyak orang baik selalu datang ke tempat ini,” pintanya.

Eulis Fatimah, mengelola Panti Asuhan Hikmah Mufakir Istiqomah yang merupakan amanah dari almarhum suaminya, Suparno Suhud. (Deffy Ruspiyandy)

Sosok almarhum suaminya ternyata bukan orang sembarangan; ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD Kota Bandung dari Fraksi PAN melalui mekanisme PAW, serta memimpin persatuan perajin mie bakso se-Jawa Barat. Sebagai aktivis Muhammadiyah yang gigih, almarhum telah banyak mendirikan panti asuhan, termasuk Panti Asuhan Muhammadiyah Sumur Bandung. Panti di Ciroyom ini menjadi warisan terakhirnya sebelum wafat pada tahun 2017.

Sebagai pemimpin sekaligus pengasuh panti, Eulis Fatimah mengelola operasional lembaga yang sepenuhnya bersandar pada kedermawanan donatur. Namun, ada jejak kemandirian ekonomi yang diwariskan almarhum suaminya melalui unit usaha nasi timbel bernama “Hatimu” (Hidangan Timbel Mujahidin).

Usaha ini bermula dari bantuan modal dari Muhammadiyah, yang kini menetap di depan Masjid Mujahidin, Jalan Sancang. Uniknya, usaha ini dikelola oleh alumni panti yang telah dewasa. Setiap harinya, sekitar 15 kg beras diolah untuk berjualan dari pagi hingga siang, dengan prinsip utama memastikan seluruh anak panti makan terlebih dahulu sebelum dagangan dijual atau sisa makanan dibagikan.

Usaha nasi timbel ini menjadi tulang punggung ekonomi yang signifikan bagi panti asuhan, dengan omzet harian mencapai Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta. Dari penjualan tersebut, Eulis mampu mengantongi laba bersih sekitar Rp400.000 per hari, atau estimasi Rp10 juta per bulan.

Meski keuntungan ini sangat membantu biaya makan, Eulis tetap membuka pintu donasi untuk menutupi biaya operasional lainnya seperti SPP sekolah, listrik, air, hingga koneksi internet. Popularitas usaha ini pun kian menanjak setelah diliput oleh program “Makan Receh” Trans7 dan viral di platform media sosial seperti YouTube dan TikTok.

“Dengan hal ini saja saya merasa bersyukur karena sebagian kebutuhan anak-anak itu bisa terpenuhi. Sisanya, tentu kami open donasi kepada donatur untuk bayar SPP, biaya listrik, biaya air, dan juga bayar wifi,” jelasnya.

Eulis mengakui bahwa awalnya ia tidak pernah berencana mengabdikan diri mengasuh anak yatim piatu. Namun, seiring berjalannya waktu, kedekatan yang terjalin membuat mereka terasa seperti darah dagingnya sendiri. Sosok yang akrab disapa “Ummi” ini memiliki banyak kenangan indah, termasuk merawat seorang anak asuh sejak lahir dari bantuan dukun bayi (paraji) yang kini telah duduk di kelas XI SMA. Meskipun banyak anak asuh yang telah mandiri dan bekerja, ikatan kekeluargaan mereka tetap kuat.

Bagi Eulis, pertolongan Tuhan selalu hadir di masa sulit. Salah satu momen krusial adalah ketika ia harus meminjam uang ke bank untuk melunasi bangunan asrama; uniknya, penjamin pinjaman tersebut adalah salah satu anak asuhnya yang telah sukses bekerja di bank.  Berkat kerja sama tersebut, utang asrama berhasil lunas dalam waktu kurang dari lima tahun.

Kini, ia berharap uluran tangan para donatur terus mengalir demi menjamin masa depan anak-anak di panti tersebut. “Saya berharap donatur bisa membantu panti asuhan ini agar anak-anak di sini dapat terbantu kehidupannya,” pungkasnya.

Panti Asuhan Yatim Piatu Hikmah Mufakir Istiqomah (HMI)
Nomor Kontak: 0818 0914 1516 – 0821 3624 9434
Rekening Bank BNI KC Bandung 0024373623 atas nama Eulis Fatimah.

Facebook Comments Box

Penulis: Deffy RuspiyandyEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.