Advertisement

apijiwa.id – Suasana di kawasan Desa Candirejo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, tampak lebih hidup dari biasanya pada Minggu (19/7/2026). Sekitar 20 pegiat sejarah yang tergabung dalam Komunitas Dewa Siwa—sebuah wadah bagi para pencinta situs dan batu candi—berkumpul di bawah semilir angin pegunungan untuk menjalankan agenda rutin mereka: blusukan sejarah.

Kegiatan triwulanan ini bukan sekadar agenda jalan-jalan biasa. Ini adalah aksi nyata untuk merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap akar budaya Nusantara yang kian hari kian tergerus zaman.

Acara dibuka oleh Romi, salah satu anggota komunitas, dan dilanjutkan dengan arahan hangat dari Ketua Komunitas Dewa Siwa, Bambang. Dalam sambutannya, Bambang menekankan bahwa setiap langkah kaki mereka hari ini adalah upaya menjaga napas sejarah agar tetap lestari di tanah Ungaran.

“Acara ini adalah ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus merawat akar budaya. Situs-situs ini adalah bukti nyata kearifan masa lalu yang wajib kita jaga keberadaannya,” ujar Bambang penuh semangat di sela-sela kegiatan.

Para peserta blusukan sejarah Komunitas Dewa Siwa tengah berdiskusi usai mengunjungi sejumlah situs yoni. (apijiwa.id/TAri Winarno)

Perjalanan menyusuri empat titik artefak dari masa klasik ini menghadirkan banyak kejutan. Destinasi pertama adalah Yoni di area Jalan Prambanan, yang berdiri tenang tepat di depan pangkalan gas LPG—sebuah pemandangan kontras di tengah hiruk-pikuk modernitas.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Yoni PDAM Candirejo yang menjadi saksi bisu masa lampau, disusul kunjungan ke Yoni Makam Mbah Dowo yang sakral. Petualangan berakhir di Yoni Bugangan, yang akrab dijuluki warga lokal sebagai “Yoni Sutet” karena posisinya yang unik berada tepat di bawah menara saluran udara tegangan ekstra tinggi.

Meski harus menempuh medan yang bervariasi, suasana blusukan berlangsung meriah, guyub, dan penuh kekeluargaan. Setelah puas menapaki jejak-jejak masa lalu, para peserta berkumpul di kawasan Hutan Pala, tak jauh dari pesona Air Terjun Semirang, untuk berdiskusi lebih dalam.

Hadir sebagai pemateri, pemerhati sejarah Yoga Wahyudi mengajak para peserta membedah filosofi di balik setiap artefak yang telah dikunjungi. Menurut Yoga, peninggalan masa klasik yang tersebar di Candirejo bukanlah sekadar tumpukan batu kuno tanpa arti. Setiap pahatan pada yoni menyimpan makna mendalam dan pesan luhur dari leluhur yang harus mampu dibaca oleh generasi masa kini.

Melalui kegiatan ini, Komunitas Dewa Siwa berharap dapat memantik kesadaran kolektif untuk menjaga situs sejarah, dimulai dari hal-hal terkecil di lingkungan sekitar. Sebab, dengan mengenali dan mencintai sejarah lokal, identitas budaya bangsa akan tetap berdiri kokoh.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.