apijiwa.id – Dalam jagat kuliner modern yang serba kompetitif, kesuksesan seringkali dipuja sebagai hasil dari kalkulasi dingin kapitalisme: ekspansi agresif, ekstraksi margin maksimal, dan kontrak waralaba yang menjerat. Namun, Ayam Geprek Sa’i hadir sebagai sebuah paradoks yang menenangkan.
Di saat merek lain berjuang mempertahankan satu atau dua gerai, entitas lokal ini justru melesat hingga memiliki lebih dari 300 cabang tanpa bergantung pada sistem franchise tradisional yang kaku. Fenomena ini membuktikan bahwa pertumbuhan pesat seringkali lahir saat keberkahan menjadi tujuan utama, sementara profit hanyalah instrumen pendukungnya.
Manajemen Spiritual
Narasi Ayam Geprek Sa’i tidak dimulai dari tangan amatir, melainkan dari kedalaman strategi seorang profesional. Irwan Barudi, sang pendiri, menempa keahliannya selama 14 tahun di California Fried Chicken (CFC).
Dengan latar belakang accounting dan finance, ia memahami setiap detak jantung operasional perusahaan—mulai dari audit gudang hingga efisiensi back office. Baginya, angka-angka dalam neraca bukan sekadar data teknis, melainkan bentuk amanah atau stewardship untuk menjaga sumber daya agar tidak terbuang sia-sia.
Namun, pada tahun 2017, sebuah krisis visi terjadi. Perubahan kepemilikan di perusahaan lamanya membawa arah yang tidak lagi sejalan dengan komitmen spiritualnya. Dengan keberanian yang matang, Irwan meninggalkan zona nyaman untuk mendirikan PT Ukhuwah Berkah Semesta.
Ia ingin membuktikan bahwa ketelitian akuntansi dapat bersenyawa harmonis dengan kemurnian jiwa dalam sebuah “Manajemen Spiritual”.
“Saya memenuhi kewajiban sebagai laki-laki, kerja karena Allah subhanahu wa taala. Mau dilihat atasannya atau tidak, itu lebih terjamin kualitas pekerjaannya.” — Irwan Barudi.
Salah satu rahasia pertumbuhan organik Ayam Geprek Sa’i terletak pada keberaniannya menentang arus ekonomi kapitalis konvensional. Irwan melihat bahwa sistem waralaba umum seringkali tidak adil karena membebani mitra dengan biaya di muka dan royalti bulanan, terlepas dari apakah gerai tersebut untung atau rugi. Melalui lensa ekonomi Islam, ia menerapkan model bagi hasil (profit share) yang jauh lebih humanis:
- Tanpa Brand Fee: Tidak ada biaya merek di awal yang membebani mitra. Nama diberikan secara cuma-cuma sebagai bentuk ukhuwah (persaudaraan).
- Tanpa Royalti Bulanan: Manajemen tidak memotong persentase dari omzet bruto, sehingga mitra tidak tercekik saat kondisi pasar sedang lesu.
- Sistem Bagi Hasil Adil: Keuntungan bersih dibagikan dengan proporsi 30% untuk pihak manajemen sebagai pengelola operasional dan 70% untuk pemilik modal. Sistem ini menuntut pengelola untuk bekerja dengan integritas tinggi, karena mereka hanya akan mendapatkan hasil jika pemilik modal juga merasakan keuntungan.
Koperasi Anti-Riba
Inklusivitas bukan sekadar jargon bagi Irwan Barudi. Sejak tahun 2023, ia mulai menghentikan kemitraan penuh untuk umum dan beralih ke sistem patungan (joint venture) internal. Dampaknya luar biasa: sekitar 90-95% cabang baru kini dimiliki secara kolektif oleh para karyawannya sendiri. Langkah ini bukan hanya tentang modal, tetapi tentang menanamkan rasa memiliki (sense of ownership) yang kuat.
Untuk memperkokoh fondasi ekonomi karyawannya, Irwan mendirikan koperasi internal dengan iuran wajib Rp100.000 per bulan. Dengan skala hampir 4.000 karyawan, dana ini terakumulasi menjadi kekuatan finansial yang masif dan digunakan sebagai senjata melawan riba:
Pertama; Pembiayaan Tanpa Bunga. Karyawan dapat meminjam dana untuk kebutuhan pokok seperti membeli motor, ponsel, hingga renovasi rumah tanpa bunga sepeser pun, menghindarkan mereka dari jeratan pinjaman online atau bank konvensional.
Kedua; Jaminan Hari Tua Mandiri. Tabungan ini menjadi bekal saat karyawan memutuskan untuk purna tugas. Jika seorang staf bekerja selama 5 tahun, ia membawa pulang tabungan akumulatif yang signifikan sebagai modal masa depan.
Bagi PT Ukhuwah Berkah Semesta, profit hanyalah bahan bakar untuk menggerakkan mesin dakwah. Melalui konsep “Pesantren Kuliner”, operasional bisnis diintegrasikan sepenuhnya dengan peningkatan kualitas spiritual. Strategi ini terbukti efektif menjaga kedisiplinan dan menekan angka kecurangan internal:
Pertama; Disiplin Spiritual. Karyawan laki-laki diwajibkan salat berjemaah di masjid dan mengawali shif dengan tadarus Al-Quran. Ini bukan sekadar ritual, melainkan metode membangun fokus dan kejujuran dalam bekerja.
Kedua; Standar Akhlak yang Tegas: Larangan merokok berlaku tanpa pandang bulu, mulai dari direksi hingga staf lapangan. Hal ini menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mencerminkan martabat perusahaan.
Ketiga; Investasi Generasi. Sebesar 30% dari laba dialokasikan untuk kegiatan sosial dan pendidikan. Perusahaan memberikan beasiswa sekolah IT hingga pesantren gratis bagi anak-anak karyawan, sebuah upaya nyata untuk memutus rantai kemiskinan lintas generasi.
Irwan memiliki prinsip yang sangat kuat mengenai penggunaan harta perusahaan, yang ia sampaikan secara lugas:
“Saya lebih menekankan uang yang untuk beli Ferrari atau Robicon itu dipakai untuk dakwah lah. Itulah saya selalu meyakini hidup itu karena sementara dan saya harus menciptakan kebaikan yang sebanyak-banyaknya.”
Strategi “Kaki Lima” Standar Mal
Secara teknis, kesuksesan Ayam Geprek Sa’i adalah hasil dari keberhasilan “menurunkan” standar kemewahan mall menjadi standar fungsional ruko atau kaki lima tanpa mengorbankan higienitas. Irwan menggunakan pengetahuannya tentang disiplin kebersihan di industri cepat saji internasional dan menerapkannya pada model bisnis yang lebih sederhana.
Ia memilih menggunakan alat masak yang lebih ekonomis dan bahan baku tingkat menengah (medium level) untuk memastikan harga jual tetap terjangkau oleh masyarakat bawah, namun tetap menjaga kontrol kualitas yang ketat. Irwan juga menunjukkan kejujuran seorang pengusaha dalam melihat tren pasar; ia secara terbuka mengakui bahwa merek “Haji Chicken” yang berfokus pada fried chicken konvensional hanya mampu mencapai 20 cabang, sementara Ayam Geprek Sa’i meledak hingga lebih dari 250 cabang karena ketepatannya dalam membaca pergeseran minat konsumen.
Nama “Sa’i” sendiri diambil dari filosofi ikhtiar maksimal dalam ibadah, sebuah pengingat bahwa usaha manusia harus selalu dibarengi dengan kepatuhan total pada Sang Pencipta. Dengan 300 cabang yang berdiri kokoh, Irwan Barudi membuktikan bahwa bisnis yang dijalankan dengan prinsip amanah dan berkah tidak akan kekurangan jalan untuk tumbuh.
Narasi ini menyisakan sebuah perenungan mendalam: di tengah kejaran angka dan tumpukan aset, sudahkah prinsip ketauhidan melandasi setiap keputusan profesional kita? Bagaimanapun, jejak abadi seorang pengusaha bukan diukur dari megahnya bangunan fisik, melainkan dari kebermanfaatan dan kesejahteraan yang ia tanamkan bagi orang-orang di sekelilingnya.











