apijiwa.id – Bagi kami yang tinggal di desa, yang jemarinya lebih akrab dengan cangkul daripada gawai, dan yang keningnya lebih sering bersentuhan dengan sajadah usang daripada lantai marmer gedung perkantoran, Isra Miraj bukan sekadar angka di kalender atau hari libur pesantren. Ia adalah sebuah “dongeng nyata” yang menjadi napas kehidupan. Kami menyebutnya dengan sederhana: Rejeban.
Mukjizat di Tengah Lelahnya Petani
Jika para ilmuwan berdebat tentang kecepatan cahaya atau lubang cacing untuk menjelaskan perjalanan satu malam Nabi Muhammad Saw dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa, lalu ke Sidratulmuntaha, kami para petani melihatnya dengan cara yang jauh lebih sederhana namun mendalam.
Bagi seorang petani yang menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk menunggu sebutir benih padi menjadi malai yang menguning, Israk Miraj adalah pengingat bahwa Allah Mahakuasa atas waktu.
Kami bekerja berdasarkan musim; menunggu hujan turun, menunggu air irigasi mengalir, dan bersabar dengan siklus alam yang lambat. Namun, dalam peristiwa Isra Mikraj, Tuhan menunjukkan bahwa jika Dia berkehendak, jarak ribuan kilometer dan tujuh lapis langit bisa ditempuh dalam sekejap mata.
Ini memberikan penghiburan bagi kami. Di saat panen gagal karena hama atau kekeringan melanda, kami ingat bahwa Sang Pemilik Alam semesta bisa mengubah nasib seseorang secepat Dia memperjalankan Nabi-Nya. Isra Mikraj adalah harapan bahwa “keajaiban” itu ada, dan ia bisa menyapa siapa saja, termasuk orang kecil yang hidup di pelosok desa.
Guyub dalam Gema Selawat
Di desa, peringatan Isra Mikraj adalah ajang “meleburkan diri”. Tidak ada sekat antara si kaya dan si miskin saat kami berkumpul di serambi masjid. Aspek sosial-budaya dari peristiwa ini tercermin dalam tradisi selamatan atau kenduri.
Ibu-ibu sibuk di dapur sejak pagi, menanak nasi dalam porsi besar, menggoreng tempe, dan memasak ayam sripah. Anak-anak berlarian dengan wajah ceria karena tahu malam nanti akan ada hidangan enak.
Inilah cara orang awam merayakan perjalanan suci Nabi: dengan berbagi makanan. Kami percaya bahwa berkah dari langit (Mi’raj) harus dibumikan melalui sedekah kepada tetangga (sosial).
Saat kiai kampung mulai bercerita tentang Buraq—hewan surgawi yang kecepatannya tak terlukiskan—kami mendengarkannya dengan takjub. Kami tidak butuh rumus fisika untuk memercayainya. Bagi orang desa, iman itu seperti akar pohon; ia tidak terlihat, tapi ia yang membuat kami tetap tegak berdiri meski badai hidup menerjang.
Salat sebagai “Oleh-oleh”
Hal yang paling membekas bagi orang awam dari peristiwa ini adalah hasil akhirnya: perintah salat lima waktu. Kami tidak melihat salat sebagai beban teologis yang berat, melainkan sebagai “oleh-oleh” terbaik yang dibawa Nabi dari perjalanan bertemu Tuhan.
Bayangkan, seorang petani yang seharian bermandi keringat di bawah terik matahari, saat mendengar kumandang azan Zuhur, ia akan mencuci kakinya yang penuh lumpur di pancuran sawah.
Di atas pematang, ia membentangkan sarung atau plastik, lalu bersujud. Itulah “mi’raj”-nya orang kecil. Salat adalah momen di mana kami yang rendah di bumi ini diizinkan “mengetuk pintu” Arsy.
Kisah tentang Nabi Muhammad yang berkali-kali kembali menghadap Allah untuk meminta keringanan jumlah salat (dari 50 menjadi 5 waktu) adalah bagian favorit kami.
Di sana kami melihat betapa Nabi sangat menyayangi umatnya yang lemah ini. Beliau tahu bahwa kami—yang sibuk mencari nafkah, yang mudah lelah, dan yang pikirannya sering teralpot—tidak akan sanggup jika harus salat 50 kali sehari. Kesederhanaan pemikiran ini membuat kami merasa sangat dekat dan dicintai oleh Rasulullah.
Filosofi Kesederhanaan dan Kerendahan Hati
Dalam pandangan orang awam, Isra Mikraj mengajarkan bahwa kemuliaan tidak datang dari harta atau jabatan. Nabi Muhammad dijemput oleh Malaikat Jibril bukan saat beliau sedang duduk di singgasana emas, melainkan saat beliau sedang dalam keadaan berduka (amul huzni) setelah ditinggal wafat istri dan pamannya.
Bagi kami yang hidup pas-pasan, pesan ini sangat kuat: kesedihan bukanlah akhir dari segalanya. Justru di titik terendah hidup manusia, Allah seringkali memberikan undangan istimewa untuk mendekat kepada-Nya.
Orang desa yang hidup sederhana, yang makan dengan sambal dan kerupuk, merasa memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Kami belajar bahwa “naik ke langit” (meraih kesuksesan atau kemuliaan) dimulai dengan “bersujud di bumi” (kerendahan hati).
Pelajaran dari Alam: Sabar dan Tawakal
Orang awam di desa melihat alam sebagai guru. Dalam peristiwa Isra Mikraj, ada perjalanan horizontal (isra’) dan perjalanan vertikal (mi’raj). Kami memahaminya sebagai keseimbangan hidup.
– Isra’ (horizontal): adalah hubungan kami dengan sesama manusia, dengan tanah yang kami cangkul, dan dengan hewan ternak yang kami pelihara. Kita harus bergerak, berusaha, dan menjalin silaturahmi.
– Mi’raj (vertikal): adalah hubungan kami dengan Sang Pencipta. Setelah lelah bekerja di sawah (isra’), kami butuh waktu untuk menenangkan batin dan memasrahkan hasil panen kepada Allah (mi’raj).
Inilah yang membuat orang desa jarang mengalami stres berat meski hidup dalam keterbatasan. Kami punya mekanisme “penghibur lara” melalui iman kepada peristiwa Isra Mikraj. Jika Nabi saja diuji dengan berbagai kesulitan sebelum diberikan kemuliaan melihat surga, apalagi kami yang hanya rakyat biasa.
Isra Mikraj yang Terus Hidup
Bagi kami, memperingati Isra Mikraj bukan sekadar mendengarkan ceramah panjang lebar di atas panggung yang dihias lampu warna-warni. Ia adalah tentang bagaimana kami membawa semangat perjalanan itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
Saat kami jujur dalam menimbang padi, itu adalah isra’. Saat kami tidak meninggalkan salat meski sedang musim tanam yang sibuk, itu adalah mi’raj. Saat kami berbagi sepiring nasi dengan tetangga yang kelaparan, itulah hakikat dari Islam yang dibawa Nabi.
Kami mungkin tidak paham istilah-istilah teologi yang rumit, atau perdebatan tentang apakah Nabi pergi dengan ruh saja atau dengan jasadnya sekaligus. Bagi kami yang awam, jawabannya satu: jika Allah menghendaki, maka terjadilah.
Jawaban sederhana itulah yang menjaga kewarasan kami di tengah dunia yang makin membingungkan ini.
Melalui Isra Mikraj, kami belajar bahwa langit tidak sejauh yang kita kira. Ia hanya sejauh jarak antara dahi dan sajadah saat kita bersujud. Dan bagi orang desa, itulah puncak dari segala perjalanan.











