Advertisement

apijiwa.id – Garuda (atau Garudeya) merupakan figur mitologi paling ikonik di Nusantara yang melambangkan dunia atas, kelahiran, dan matahari. Sebagai putra dari Kasyapa dan Winata, sosok berjuluk Gaganeswara (Raja Langit) ini merupakan wahana atau kendaraan setia Dewa Wisnu. Dalam khazanah seni, visualisasi Garuda hadir dalam dua wujud: zoomorfik (burung raksasa seutuhnya) dan antropomorfik (setengah manusia, setengah burung). Jejaknya membentang luas dari masa klasik hingga modern; mulai dari relief candi dan perhiasan kuno, motif batik Gurdha yang melambangkan keperkasaan, hingga menjadi lambang negara Indonesia.

Menurut Puput Virdianti dan Septina Alrianingrum dalam Avatara: e-Journal Pendidikan Sejarah (2014), Garuda (Sanskerta: Garuḍa; Pali: Garuḷa) merupakan wahana atau kendaraan dewa dalam ajaran Hindu dan Buddha. Sebagai kendaraan setia Dewa Wisnu—salah satu dewa utama dalam konsep Trimurti—Garuda digambarkan secara mitologis memiliki tubuh emas, berwajah putih, dan bersayap merah. Meskipun paruh dan sayapnya menyerupai elang, tubuhnya menyerupai manusia dengan ukuran kolosal yang mampu menghalangi cahaya matahari.

Salah satu kisah Garuda yang paling ikonik tertuang dalam Kitab Mahabharata, yakni tentang perseteruan antara Dewi Kadru dan Dewi Winata. Kadru adalah ibu dari ribuan naga, sementara Winata merupakan ibu dari Garuda. Sayangnya, hubungan keduanya tidak harmonis. Melalui tipu muslihat dalam sebuah taruhan, Dewi Kadru berhasil menjebak Dewi Winata hingga ia kalah dan terpaksa menjadi budak.

Melihat ibundanya menderita dalam perbudakan, hati Garuda hancur sekaligus geram. Tak tega melihat penderitaan sang ibu setiap hari, ia pun mendatangi para naga dan menuntut kebebasan ibunya. Para naga memberikan syarat yang nyaris mustahil: Garuda harus membawa pulang Tirta Amerta, air suci milik para dewa yang mampu memberikan keabadian bagi siapa pun yang meminumnya.

Tanpa rasa takut, Garuda terbang tinggi menuju Kahyangan. Di sana, ia harus melewati rintangan berat dan terlibat pertempuran hebat melawan para dewa penjaga air suci. Kegigihan serta ketulusan bakti Garuda terhadap ibundanya akhirnya menarik perhatian Dewa Wisnu.

Garudeya. (Artwork Ari Tri Winarno)

Tersentuh oleh pengabdian tersebut, Dewa Wisnu mengizinkan Garuda membawa Tirta Amerta. Sebagai imbalannya, Garuda bersedia menjadi wahana atau kendaraan setia bagi Sang Dewa selamanya. Berkat keberaniannya membawa air suci tersebut, para naga akhirnya membebaskan Dewi Winata dari belenggu perbudakan. Kisah ikonik dari Kitab Mahabharata ini abadi hingga kini, terekam indah pada relief di berbagai candi seperti Candi Sukuh, Prambanan, Mendut, Banon, hingga Candi Kidal.

Sebelum menjadi lambang negara, visualisasi Garuda telah menempuh perjalanan sejarah yang panjang di Nusantara. Sosok ini diduga mulai populer pada abad ke-10 di era Mataram Kuno, tepatnya pada masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh. Setelah kerajaannya runtuh akibat peristiwa Mahapralaya, muncul Airlangga sebagai penerus takhta.

Sebagai penguasa yang menjadi leluhur raja-raja Janggala dan Kediri, Airlangga kerap menggunakan cap kerajaan berbentuk Garuda. Pengaruhnya pun meresap ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuno; mulai dari perabotan seperti lampu gantung, pengetuk pintu, hingga lampu pelita. Selain itu, motif Garuda menjadi unsur dekoratif yang tak terpisahkan dalam seni batik dan wayang kulit.

Sejarah Garuda Pancasila merupakan perjalanan panjang pencarian jati diri bangsa yang melibatkan tokoh-tokoh nasional seperti Sultan Hamid II, Soekarno, Hatta, dan Muhammad Yamin. Melalui serangkaian sayembara dan revisi, desain yang awalnya menyerupai sosok mitologis Garudeya (setengah manusia) bertransformasi menjadi burung yang lebih alami dan gagah.

Lambang ini akhirnya disahkan pada Februari 1950. Perubahan desain dilakukan agar lambang negara terlihat unik, termasuk penambahan jambul atas arahan Presiden Soekarno agar tidak menyerupai lambang negara lain (seperti Bald Eagle Amerika). Secara filosofis, arah kepala Garuda yang menoleh ke kanan melambangkan kebaikan, sementara jumlah bulunya secara spesifik merepresentasikan tanggal proklamasi: 17 Agustus 1945. Menariknya, meski berakar dari mitologi Hindu, sosok visualnya memiliki kemiripan fisik yang sangat kuat dengan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi).

Sejarah panjang Garuda Pancasila sesungguhnya menyimpan pesan moral mendalam yang sangat relevan bagi tantangan bangsa saat ini. Jika dahulu Garuda berjuang dengan gagah berani demi membebaskan ibundanya dari belenggu ketidakadilan, maka semangat itulah yang seharusnya menjadi cermin bagi kita.

Di tengah riuhnya kabar mengenai korupsi, jual beli jabatan, hingga berbagai kecurangan, kita perlu bertanya pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar menghayati lambang negara tersebut? Arah kepala Garuda yang menoleh ke kanan bukanlah sekadar estetika desain, melainkan sebuah “kompas abadi”. Ia adalah pengingat bagi setiap anak bangsa untuk selalu memilih jalan yang jujur, lurus, dan menjunjung tinggi moralitas di atas segalanya.

Sebagai generasi penerus, kita adalah “sayap” masa depan Indonesia. Saat praktik curang seperti jual beli jabatan dan ketidakjujuran dibiarkan tumbuh, kita sebenarnya sedang membebani sayap Garuda hingga ia sulit untuk terbang tinggi.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dicengkeram kuat oleh kaki Garuda adalah pengingat bahwa di tengah keberagaman, integritaslah yang menyatukan kita sebagai satu keluarga besar. Garuda bukan sekadar pajangan di dinding kelas, melainkan panggilan jiwa untuk berani berkata “tidak” pada kecurangan. Dengan menjaga kejujuran hari ini, kita sedang memastikan Garuda terus terbang perkasa menuju Indonesia yang lebih adil, bermartabat, dan bercahaya di masa depan.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.