apijiwa.id – Sore hari di bulan Ramadan di Jalan Pekojan, Semarang, adalah fragmen keriuhan yang tak pernah lelah. Bunyi klakson kendaraan yang terjebak kemacetan di dekat Pasar Johar beradu dengan hiruk-pikuk aktivitas perniagaan. Namun, tepat saat langkah kaki melewati gerbang Masjid Jami’ Pekojan, hiruk-pikuk itu seolah terserap oleh dinding-dinding tua yang kokoh.
Di udara, kepulan asap dari kayu bakar membawa aroma rempah yang tajam—paduan antara sengatan hangat jahe dan aroma manis kayu manis yang megah. Inilah “isyarat sensorik” yang telah memanggil para pencari berkah selama lebih dari satu abad: Bubur India.
Sebagai sebuah warisan gastronomi, bubur ini bukan sekadar hidangan berbuka. Ia adalah narasi sejarah, iman, dan diplomasi kebudayaan yang tersaji dalam semangkuk kehangatan.
Warisan Abad ke-19
Bubur India adalah jejak fisik dari Semarang sebagai pelabuhan multietnis yang dinamis. Hidangan ini dibawa oleh kaum Koja, pedagang Muslim dari Gujarat, India, yang menetap di pesisir Jawa. Secara formal, tradisi ini sering dikaitkan dengan renovasi masjid pada tahun 1892, namun secara antropologi, kita perlu melihat jejak yang lebih dalam.
Terdapat sebuah fakta yang menarik: di teras masjid, terdapat makam Syarifah Fatimah yang wafat pada tahun 1873. Hal ini membuktikan bahwa komunitas Koja telah aktif beribadah dan membangun denyut kehidupan di sini jauh sebelum prasasti peresmian masjid dipahat. Tradisi kuliner ini pun lahir dari semangat kolektif keluarga-keluarga besar seperti keluarga Akwan, yang namanya abadi dalam sejarah pendirian masjid.
Berdasarkan prasasti yang terdapat pada dinding masjid, dapat diketahui bahwa musala itu dibangun menjadi masjid pada tanggal 15 Sya’ban 1309 H atau bertepatan dengan tanggal 15 Maret 1892 M. Pada prasasti itu terdapat nama lima tokoh yang turut serta dalam pembangunan masjid, di antaranya Haji Muhammad Ibrahim Akwan, Haji Muhammad Nur, Haji Muhammad Ali, Haji Muhammad Ya’kub, dan Haji Akhmad Azhari.”
Dalam lensa antropologi kuliner, Bubur India merupakan instrumen cultural engineering (rekayasa budaya). Bagi kaum diaspora Koja, bubur ini adalah strategi “bertahan hidup” (how survival) untuk menjaga memori tentang tanah air Gujarat di tengah perubahan sosial di tanah perantauan.
Lebih dari sekadar penghilang lapar, bubur ini berfungsi sebagai magnet sosial. Kuliner menjadi pintu masuk dakwah yang halus; sebuah diplomasi kuliner di mana jemaah dikumpulkan melalui rasa, lalu diberikan “siraman rohani” sebelum berbuka. Cara ini terbukti efektif merekatkan komunitas Muslim India dengan masyarakat lokal Semarang, menciptakan asimilasi damai yang bertahan lintas generasi.
Simfoni Rempah
Jika bubur tradisional Jawa umumnya menonjolkan profil rasa yang sederhana dari santan dan garam, Bubur India Pekojan adalah sebuah ledakan rasa yang kompleks. Di sini, beras dimasak hingga menjadi tekstur yang lembut namun kaya akan lapisan rasa.
Perbedaan mencolok terletak pada penggunaan sayuran dan rempah yang masif. Setiap harinya, sekitar 20 hingga 23 kg beras diolah dengan santan dari 20 butir kelapa, menghasilkan 200 hingga 300 porsi. Berikut adalah elemen kunci yang membentuk karakter rasanya:
Pertama; rempah Inti: jahe, kayu manis, kapulaga, dan cengkih yang memberikan sensasi hangat di tenggorokan.
Kedua; aromatik: serai, daun salam, daun pandan, bawang merah, dan bawang putih.
Ketiga; tekstur sayur: campuran potongan wortel, kol, dan taburan daun bawang yang memberikan dimensi rasa segar.
Dan keempat; lauk pendamping: disajikan dengan kuah kental seperti kare, sayur lodeh, atau sambal goreng jipang. Menariknya, hidangan pelengkap ini seringkali disiapkan oleh Laras Catering, usaha kuliner milik warga keturunan Pakistan, yang menjaga benang merah identitas Asia Selatan dalam setiap sajiannya.
Keaslian rasa Bubur India dijaga dengan ketat melalui teknik memasak tradisional. Sosok seperti Pak Ahmad Ali, juru masak generasi keempat keturunan Koja, serta Pak Achmad Paserin yang telah belasan tahun mengabdi, adalah penjaga rahasia dapur ini.
Alat masaknya pun legendaris: sebuah kuali tembaga raksasa yang telah digunakan selama lebih dari satu abad. Dalam kurun waktu 150 tahun, kuali ini hanya pernah berganti satu kali, itu pun karena kuali aslinya akhirnya retak setelah puluhan ribu kali bersentuhan dengan api kayu bakar.
Penggunaan kayu bakar memberikan aroma asap (smoky) yang tidak bisa digantikan oleh kompor gas modern, menciptakan karakter patina rasa yang autentik pada setiap sendokannya.
Magnet Sosial
Setiap sore menjelang Magrib, Masjid Pekojan berubah menjadi ruang perjumpaan yang setara. Tidak ada sekat antara musafir, penduduk lokal, pria, wanita, hingga anak-anak. Fenomena antrean warga yang membawa wadah sendiri—rantang hingga plastik—menjadi pemandangan rutin bagi mereka yang ingin membawa pulang “berkah” bubur ini.
Dalam kepercayaan lokal yang berkelindan dengan mistisisme Jawa, bubur ini dianggap memiliki khasiat spiritual. Sebagian warga meyakininya sebagai obat sakit perut atau asupan yang baik bagi ibu hamil. Dimensi kemanusiaan ini terekam jelas dalam kesan para penikmatnya:
“Buburnya ngangenin, cita rasanya pas dan mantap. Setiap Ramadan saya harus ke sini, bahkan membawa pulang untuk keluarga karena rasanya masih enak dimakan besok,” ungkap Agus Wijayanto, pengunjung asal Barito.
Sementara itu, Endang asal Ngaliyan, pengunjung muda yang baru pertama kali mencoba, mengungkapkan rasa penasarannya, “Rasanya gurih, sedikit pedas karena rempahnya kuat, tapi teksturnya tetap lembut seperti bubur yang saya kenal.”
Bubur India Masjid Pekojan adalah simbol harmoni yang melampaui waktu. Ia membuktikan bahwa sebuah resep sederhana, jika diracik dengan ketulusan dan dijaga oleh sejarah, mampu menjadi benang merah yang mengikat iman dan komunitas selama lebih dari satu abad.
Di tengah modernitas Semarang yang terus berderu, semangkuk bubur hangat ini tetap menjadi pengingat bahwa akar budaya adalah sumber kekuatan untuk terus bertahan.












