apijiwa.id – Semarang merupakan kota yang pernah dijuluki “Venesia dari Timur” oleh orang-orang Belanda karena keindahan geologinya. Semarang juga sangat kaya khazanah kuliner.
Beberapa kuliner ikonis akan muncul di benak ketika menyebut kuliner khas Semarang, antara lain: lunpia, wingko babad, soto bangkong, mi kopyok, tahu bakso, dan tahu gimbal.
Bila ditelesik, masih banyak lagi kuliner ikonis khas Semarang, salah satunya yang cukup masyhur adalah sate sapi Pak Kempleng. Posisinya memang tidak berada di Kota Semarang, melainkan berada di kota kecil Ungaran—ibu kota Kabupaten Semarang.
Meski sebuah kota kecil, Ungaran termasuk jalur strategis. Ungaran populer dengan julukan “Kota Seribu Rumah Makan” karena keberadaannya di jalur utama bagi kendaraan dari Kota Semarang yang akan menuju ke Solo dan Yogyakarta. Di sepanjang jalan banyak dijumpai rumah makan yang menawarkan ragam kuliner bagi mereka yang sedang menempuh perjalanan.
Di antara beribu rumah makan di sepanjang jalan di Ungaran itulah, terdapat sate sapi Pak Kempleng yang—menurut saya—paling masyhur di antara rumah makan lainnya. Sate sapi Pak Kempleng menjadi jujugan para penggemar sate, karena cita rasa kelezatannya yang sudah teruji oleh masa tempuh yang panjang.
Sate Sapi Legendaris Sejak 1946
Sesuai namanya, sate sapi Pak Kempleng dirintis pertama kali oleh Pak Kempleng yang bernama asli Sakimin. Pak Sakimin memulai usaha sate pada tahun 1946.
Seperti cerita-cerita perintisan usaha kuliner pada tahun-tahun itu, Pak Sakimin memulai usahanya dengan menjajakan satenya secara berkeliling menggunakan pikulan. Ia berjualan malam hari di seputaran Kota Ungaran.
Setiap malam, Pak Sakimin keluar masuk gang di Kota Ungaran menawarkan satenya. Perjalanan Pak Sakimin menjajakan satenya biasanya berakhir di Alun-alun Ungaran. Demikian itu dilakoni Pak Sakimin dengan tekun hingga akhir hayatnya.

Cita rasa sate sapi buatan Pak Sakimin terkenal enak dan lezat, sehingga memiliki banyak pelanggan, termasuk dari kalangan etnis Tionghoa.
Tahun 1972, Pak Sakimin wafat. Sepeninggal Pak Sakimin, hampir saja tidak ada generasi yang meneruskan usaha satenya. Padahal ketika itu, nama sate sapi Pak Kempleng sudah cukup kondang dan memiliki nama besar.
Beruntung, akhirnya, salah seorang anak Pak Sakimin yang bernama Sumorejo mau meneruskan usaha sate sapinya. Bermodal nama besar ayahnya, Sumorejo berjualan sate sapi secara berkeliling menggunakan pikulan seperti yang dilakukan ayahnya.
Sumorejo mulai merintis usaha berjualan sate sapi dari nol. Kehadiran kembali sate sapi Pak Kempleng menjadi penawar rindu para penggemarnya yang merasa kehilangan semenjak Pak Sakimin wafat.
Banyaknya pelanggan, menjadikan usaha sate sapi Pak Kempleng yang dijalankan Sumorejo relatif lebih mudah dan tidak mendapatkan kendala berarti dalam perjalanan usahanya. Sehingga pada perkembangannya, pada tahun 1986, Sumorejo mampu menyewa sebidang lahan di pinggir jalan raya Ungaran untuk membuka warung satenya.
Sekarang, generasi penerus sate sapi Pak Kempleng, meliputi anak-anak dan keponakannya, membuka rumah makan dengan merek sate sapi Pak Kempleng 1, 2, 3, 4, dan seterusnya—yang semuanya berlokasi di ruas jalan yang sama, yakni di ruas jalan utama kota Ungaran.
Asal-usul Nama Kempleng
Satu yang masih menjadi penasaran adalah soal dari mana asal-usul nama “Kempleng” yang sekarang sudah dipatenkan? Seperti halnya nama “Klathak” pada sate klathak, sejauh ini tidak ada penjelasan valid tentang asal-usul nama Kempleng sebagai nama julukan bagi Pak Sakimin—sang kreator sate sapi Pak Kempleng.
Namun, di kalangan penggemar satenya, setidaknya terdapat dua versi yang menjelaskan asal-usul nama Kempleng. Versi pertama menyebutkan, nama Kempleng berasal dari kebiasaan Pak Sakimin memiringkan kepala saat menjual sate sapi dengan berkeliling di sekitaran alun-alun Ungaran.
Kebiasaan Pak Sakimin itu disebut dengan istilah kempleng. Dari sinilah konon Pak Sakimin mendapat julukan Pak Kempleng—yang di kemudian hari menjadi nama keberuntungan bagi usaha sate yang diwariskan kepada anak-anak dan keturunannya.
Versi kedua menyebutkan, kata Kempleng berawal dari istilah yang merujuk pada cita rasa sajian sate yang dijual oleh Pak Sakimin, yakni dengan istilah ngampleng. Sajian yang ditawarkan Pak Sakimin disebut “sega ngampleng” yang berarti nasi dengan potongan daging sapi yang dibakar dan rasanya seperti ngampleng di mulut.
Ngampleng dalam bahasa Jawa berarti menampar, sehingga istilah “ngampleng di mulut” secara leksikal berarti “menampar di mulut” karena saking lezatnya. Para pelanggan dari etnis Tionghoa konon susah menyebutkan kata ngampleng. Mereka menyebutnya dengan kempleng. Dari sinilah kemudian Pak Sakimin dijuluki Pak Kempleng.
Terlepas dari versi cerita asal-usul nama Kempleng yang berkembang itu—yang sepertinya lebih cocok sebagai bumbu cerita penghangat obrolan, para pelanggan sate sapi Pak Kempleng tak terlalu peduli dengan cerita-cerita semacam itu.
Mereka lebih tertarik dengan cita rasa sate sapi Pak Kempleng yang memang istimewa.
Lezatnya Sate Sapi Pak Kempleng
Berbeda dengan sate klathak khas Yogyakarta dan sate buntel khas Solo yang anti mainstream, sate sapi Pak Kempleng merupakan prototip sate pada umumnya yang berupa potongan daging yang ditusuk sujen lalu dibakar. Kesamaannya adalah pada kekuatan cita rasa kelezatan yang ditawarkan.
Sate sapi Pak Kempleng sendiri adalah jenis sate sapi manis yang agak mirip dengan sate maranggi di Purwakarta dan Cianjur, Jawa Barat.
Ciri khas sate sapi Pak kempleng adalah dalam proses pembuatannya, potongan daging direndam terlebih dahulu dalam bumbu marinasi agak lama, sehingga dagingnya empuk dengan bumbu yang meresap.
Formula bumbunya sendiri mengandung gula aren dan bumbu-bumbu rempah lainnya sehingga cita rasa sate sapi Pak Kempleng cenderung manis.
Saya sendiri sudah beberapa kali menyantap sate sapi Pak Kempleng sejak tahun 2016 dalam beberapa kali agenda lawatan ke Ungaran. Sejak awal mencicipi sate sapi Pak Kempleng, saya langsung terpikat oleh kelezatannya.
Setiap kali ada agenda ke Ungaran, saya hampir selalu tak melewatkan kesempatan untuk menyantap sate sapi Pak Kempleng.
Bagi saya, sate sapi Pak Kempleng memang istimewa. Meski dagingnya dipotong-potong relatif besar, namun dagingnya tidak alot, melainkan empuk dengan tingkat kematangan medium well di mana kekenyalan dagingnya terasa lumayan padat, namun masih tetap terasa juicy.
Sate sapi Pak Kempleng disajikan dengan saus kacang, irisan lombok dan irisan bawang merah, yang ditempatkan terpisah. Tidak langsung disiramkan atau disatukan pada satenya sebagaimana penyajian sate pada umumnya.
Namun karena sate sapinya sudah dibumbui sebelum dibakar, tanpa saus kacang pun, sebenarnya sate sapi Pak Kempleng rasanya sudah sangat lezat.
Selain daging, sate sapi Pak Kempleng juga memakai jerohan sapi (babat, usus, paru), tapi satu tusuk satu jenis, tidak dicampur. Satu porsi sate sapi Pak Kempleng sejumlah 10 tusuk bisa dinikmati dengan sepiring nasi atau lontong—bisa dipilih sesuai selera.
Dalam peta kuliner Nusantara, sate sapi Pak Kempleng termasuk diperhitungkan. Sate sapi Pak Kempleng termasuk yang direkomendasikan dalam buku 80 Warisan Kuliner Nusantara (2008) yang diterbitkan oleh Bango untuk kategori sate sapi manis.











