apijiwa.id – Dalam setiap suapan hidangan Nusantara, tersimpan simfoni rempah yang merajut narasi panjang melampaui sekadar pemuas rasa lapar. Sayangnya, kekayaan ini seringkali dinikmati tanpa kesadaran akan kedalaman sejarahnya.
Buku berjudul Riwayat Kuliner Indonesia: Asal-usul, Tokoh, Inspirasi, dan Filosofi karya Badiatul Muchlisin Asti bukan merupakan dokumentasi cara memasak. Di era dominasi makanan cepat saji global, buku ini berfungsi sebagai upaya mempertahankan identitas budaya melalui narasi sejarah kuliner.
Mendokumentasikan sejarah kuliner memiliki nilai strategis yang krusial dalam memperkuat identitas nasional. Di era disrupsi informasi, memahami asal-usul apa yang terhidang di piring kita adalah cara untuk meneguhkan kembali jati diri bangsa yang majemuk.
Buku ini hadir untuk mengisi kekosongan literasi tersebut, membuktikan bahwa meja makan adalah ruang diplomasi paling jujur yang dimiliki oleh sebuah peradaban.
Sebagai penulis, Badiatul Muchlisin Asti bukanlah sosok baru di belantika literasi. Ketekunannya dalam mengumpulkan kepingan sejarah kuliner sejak 2018 di banyak media massa bermuara pada buku ini.
Transformasi dari artikel-artikel ringan menjadi sebuah buku setebal 400 halaman merupakan bentuk demokratisasi pengetahuan kuliner yang patut diapresiasi; membawa narasi warung kopi ke dalam sebuah dokumentasi yang lebih berwibawa dan permanen.
Bobot fisik buku ini seakan mencerminkan “beratnya” nilai sejarah yang coba dirangkum penulis ke dalam struktur konten yang sangat luas.
Penulis menyusun buku ini dengan pendekatan ensiklopedis yang egaliter. Sebanyak 80 entri riwayat makanan ikonis Indonesia disusun secara alfabetis, mulai dari “Asem-Asem Daging” hingga “Yangko”. Struktur ini membuat makanan kaki lima yang rendah hati duduk berdampingan dengan sajian ningrat dalam martabat yang sama.
Sebagai “Seri 1”, buku ini menjadi pembuka dari megaproyek dokumentasi kuliner Nusantara yang lebih besar. Cakupan risetnya sangat luas, meliputi sejumlah klaster, di antaranya olahan ayam. Pada klaster ini penulis mengajak menjelajahi evolusi rasa dari Ayam Goreng Mbok Berek yang legendaris hingga fenomena kontemporer Ayam Geprek.
Pada klaster kudapan tradisional, penulis membedah filosofi di balik Bakpia, Getuk Goreng Sokaraja, hingga penganan Imlek seperti Kue Keranjang. Lalu pada klaster sajian berkuah, penulis menyajikan analisis mendalam atas kompleksitas rasa dalam Gule Kambing Bustaman khas Semarang, Becek khas Grobogan, hingga Brongkos favorit sultan.
Kekayaan kuantitas ini hanyalah pintu masuk menuju tema sentral yang jauh lebih dalam: piring sebagai saksi bisu hibriditas budaya.
Piring sebagai Ruang Akulturasi
Tesis filosofis yang diusung Badiatul Muchlisin Asti sangat tajam: “Makanan adalah pengecualian dari sekat primordial”. Di saat politik identitas seringkali membelah masyarakat, meja makan justru menjadi ruang dialektika di mana perbedaan SARA melebur dalam kelezatan universal.
Buku ini memberikan bukti empiris atas hibriditas tersebut melalui contoh-contoh spesifik:
Pertama; akulturasi Tionghoa. Riwayat Bakpia adalah studi kasus adaptasi yang brilian. Berasal dari kata bak pia (kue daging), ia bertransformasi menggunakan isian kacang hijau demi merengkuh pasar Muslim di Jogjakarta. Begitu pula Asem-Asem Daging yang berakar dari tradisi dapur peranakan (seperti kedai legendaris Koh Liem di Semarang). Secara etimologis, penulis mengaitkannya dengan asal-usul nama Semarang, yakni Asem sing Arang (pohon asam yang jarang), yang memberikan karakter rasa asam dominan pada masakannya.
Kedua; adaptasi Eropa/Barat: Bir Pletok muncul sebagai “budaya tandingan” (counter culture) masyarakat Betawi terhadap kebiasaan minum wine penjajah Belanda. Menggunakan kayu secang untuk meniru warna merah anggur, namun sepenuhnya halal dan menghangatkan. Sementara Rijsttafel dan Selat Solo menunjukkan bagaimana lidah lokal menjinakkan estetika perjamuan Barat.
Ketiga; pengaruh Arab. Nasi Kebuli berdiri sebagai monumen sintesis Betawi-Arab yang tak terpisahkan dari identitas kuliner ibu kota.
Hibriditas ini, sebagaimana ditekankan penulis dalam prakatanya, adalah kunci kerukunan sosial. Kita boleh bertengkar di ruang publik, namun kita selalu “akur” di meja makan.
Penulis yang akarb disapa Asti itu tidak sekadar menyajikan data kering; ia menangkap “jiwa” dari para perintis rasa. Buku ini mengevaluasi etos kerja luar biasa yang diwariskan oleh para legenda kuliner kepada pembaca modern.
Kita disuguhi “mitologi” yang memperkaya narasi, seperti kisah Mbok Berek (Nini Ronodikromo) yang merintis usahanya sejak 1830. Ada lapisan mistis yang menarik ketika penulis menceritakan sosok “Kakek Berpakaian Serba Ungu” yang memberikan resep rahasia kepada Mbok Berek—sebuah fragmen sejarah yang diabadikan oleh keturunannya dalam nama badan usaha PT. Weling Simbah Wulung.
Begitu pula dengan H. Slamet Raharjo. Meski memulai berbagai menu sejak 1979, ia baru menemukan “jalan rezekinya” saat fokus pada bebek goreng di tahun 1986. Filosofi “Ngorek-ngorek” pada Sambal Koreknya bukan sekadar soal rasa pedas, melainkan representasi dari masa susahnya yang penuh perjuangan dan penghematan.
Di sisi modern, ada Ruminah yang menciptakan Ayam Geprek di Jogja sejak 2003 atas permintaan seorang mahasiswa asal Kudus, membuktikan bahwa inovasi seringkali lahir dari dialog antara penjual dan pelanggan.
Cerita-cerita ini memberikan nilai integritas dan mutu yang sangat relevan bagi wirausaha kuliner masa kini.
Dari Sesaji ke Komoditas
Analisis sosiologis yang paling menarik dalam buku ini adalah fenomena desakralisasi makanan. Penulis menyoroti bagaimana fungsi makanan bertransformasi dari instrumen ritual menuju ikon ekonomi kreatif.
Contoh paling gamblang adalah Ayam Panggang Bledug (Ayam Pencok). Bermula sebagai hidangan sesaji di makam Mbah Ro Dukun (Raden Ayu Ngainah) di kawasan wisata Bledug Kuwu, Grobogan, kuliner ini kini telah “turun gunung” menjadi menu konsumsi publik yang populer. Hal yang sama terjadi pada Ingkung. Transformasi dari ruang sakral ke ruang komersial ini menunjukkan fleksibilitas tradisi dalam menghadapi tuntutan zaman tanpa harus kehilangan identitas asalnya.
Secara stilistika, Asti mengadopsi pendekatan ‘obrolan ringan di warung kopi’. Meski ia secara rendah hati menyatakan bahwa karyanya bukan teks akademis, gaya ini justru menjadi strategi ‘jembatan’ yang cerdas untuk menjangkau pembaca luas.
Meskipun bergaya santai, Asti tetap memegang integritas intelektual dengan merujuk pada otoritas kuliner papan atas seperti Bondan Winarno, Murdijati Gardjito, hingga Hiang Marahimin. Perpaduan antara gaya bahasa yang membumi (low-brow) dengan referensi pakar yang mumpuni (high-brow) membuat topik sejarah yang biasanya dianggap kaku menjadi sangat renyah dan aksesibel bagi pembaca awam.
Ini adalah keberhasilan dalam mengemas pengetahuan berat menjadi konsumsi publik yang menyenangkan.
Boleh dibilang, buku Riwayat Kuliner Indonesia adalah sebuah mahakarya dokumentasi yang esensial. Ia berhasil menangkap eksotisme riwayat panjang di balik setiap cita rasa yang kita nikmati. Bagi penikmat kuliner, praktisi sejarah, maupun masyarakat umum, buku ini adalah panduan penting untuk lebih menghargai setiap suapan makanan tradisional sebagai warisan luhur.
Kehadiran buku ini sangat penting untuk memastikan bahwa generasi mendatang tidak hanya mengenal rasa, tetapi juga mengenali jati diri bangsanya melalui kekayaan rasa Nusantara. Sebagaimana doa dan harapan yang dipanjatkan penulis dalam prakatanya, semoga karya ini menjadi warisan yang bermanfaat bagi anak cucu kita.
Informasi Bibliografis
Judul: Riwayat Kuliner Indonesia: Asal-usul, Tokoh, Inspirasi, dan Filosofi
Penulis: Badiatul Muchlisin Asti
Penerbit: CV. Hanum Publisher
Tahun terbit: 2022
Jumlah halaman: xii + 400 hlm
Jenis cover: Hardcover
ISBN: 978-623-7725-20-6
Kontak pemesanan buku: 0888-255-1977 (WA)













