Advertisement

apijiwa.id – Pernahkah Anda membayangkan sebuah tradisi keagamaan yang lahir bukan dari pemaksaan, melainkan dari rasa toleransi yang mendalam terhadap mereka yang berbeda keyakinan?

Di tengah riuhnya perayaan Iduladha, masyarakat Kudus punya cara unik untuk merawat kebinekaan. Mereka memilih kerbau sebagai hewan kurban, alih-alih sapi.

Tradisi ini membawa kita kembali ke masa ratusan tahun silam, saat Sunan Kudus melarang penyembelihan sapi demi menghormati dan menjaga perasaan umat Hindu.

Karena itu, menelusuri sejarah kurban kerbau di Kudus bukan sekadar membahas ritual ibadah. Ini adalah cara kita belajar tentang bagaimana sepotong sejarah mampu merajut kedamaian yang melintasi zaman.

Dua Versi Sumber Kultural

Dalam tradisi masyarakat, setidaknya ada dua versi cerita yang populer mengenai asal-usul tradisi ini:

Versi Pertama (Kisah Balas Budi): Dikisahkan bahwa Sunan Kudus pernah ditolong oleh sekawanan sapi saat tersesat di tengah hutan. Beliau mengikuti sekumpulan sapi tersebut hingga akhirnya berhasil menemukan jalan keluar dan selamat sampai ke permukiman. Sebagai wujud rasa hormat dan terima kasih, Sunan Kudus mewanti-wanti para pengikutnya untuk tidak menyembelih maupun memakan daging sapi.

Versi Kedua (Strategi Dakwah Rahmatan lil ‘Alamin): Versi ini merujuk pada strategi dakwah Sunan Kudus (Ja’far Shodiq) pada awal abad ke-16. Untuk menarik simpati masyarakat yang kala itu mayoritas memeluk agama Hindu, beliau mengimbau pengikutnya untuk menghormati sapi. Dalam tradisi Hindu, sapi merupakan hewan suci yang sakral sekaligus wahana (kendaraan) Dewa Siwa.

Ada satu fragmen menarik dalam kisah versi kedua ini. Suatu hari, Sunan Kudus membeli seekor sapi dari India yang dibawa oleh pedagang asing, lalu menambatnya di halaman rumah. Warga—baik yang beragama Islam maupun Hindu—berbondong-bondong datang karena penasaran.

Di hadapan kerumunan tersebut, Sunan Kudus justru berceramah dan melarang warga menyakiti sapi itu. Pendekatan simpatik ini membuat masyarakat Hindu kagum. Momentum tersebut langsung dimanfaatkan Sunan Kudus untuk mengenalkan bahwa di dalam Al-Qur’an pun terdapat surah bernama Al-Baqarah (Sapi Betina). Rasa kagum ini kemudian berubah menjadi ketertarikan mendalam terhadap ajaran Islam.

Kisah sejarah ini selaras dengan temuan ilmiah. Amalia Cahya Rachmayanti dan Ummu Bissalam dalam Jurnal Studi Islam (2025) menegaskan bahwa pendekatan akomodatif tersebut berhasil menjaga kerukunan lintas iman tanpa melanggar syariat. Secara biologis, sapi dan kerbau berada dalam satu keluarga (Bovidae), sehingga substitusi atau penggantian ini tetap sah secara hukum kurban.

Benang Merah Sejarah: Kesaksian Tomé Pires

Apakah potret toleransi abad ke-16 ini didukung oleh bukti tertulis? Jawabannya terekam kuat dalam Suma Oriental, catatan perjalanan penjelajah Portugis, Tomé Pires, yang merapat di pesisir Jawa sekitar tahun 1513. Kesaksiannya mengonfirmasi tiga realitas penting saat itu.

Pertama; mengenai eksistensi komunitas Hindu. Di saat Islam berkembang pesat di pesisir seperti Demak, masyarakat Hindu tetap eksis dan hidup berdampingan secara damai. Pires bahkan merekam keberadaan para pertapa Hindu yang bebas menjalankan aktivitas spiritual mereka tanpa gangguan.

Kedua; wilayah pesisir utara Jawa telah menjelma menjadi masyarakat kosmopolitan. Kawasan ini menjadi kuali peleburan (melting pot) yang mempertemukan komunitas Muslim heterogen dari berbagai penjuru dunia—mulai dari Persia, Arab, Gujarat, Benggala, Melayu, hingga Cina.

Ketiga; terjadilah asimilasi budaya yang masif. Para pendatang ini tidak sekadar singgah untuk berniaga, tetapi juga membangun akar kehidupan baru. Mereka menikah dengan warga lokal, mendirikan perkampungan, dan secara persuasif mendakwahkan Islam.

Dari sini, kita melihat benang merah yang benderang antara memori kolektif masyarakat Kudus dan catatan Suma Oriental. Keduanya menjadi bukti autentik bahwa pada awal abad ke-16, toleransi di pesisir utara Jawa tumbuh secara organik. Maka, larangan menyembelih sapi oleh Sunan Kudus bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan sebuah respons genius terhadap realitas sosial zamannya.

Akar Toleransi: Relevansi Masa Kini dan Masa Depan

Esensi tradisi kurban kerbau di Kudus bukan sekadar tentang mengganti jenis hewan sembelihan, melainkan sebuah manifestasi konkret dari kebijaksanaan kultural yang meletakkan rasa kemanusiaan dan penghormatan di atas ego kelompok.

Sejarah mencatat bahwa harmoni di pesisir utara Jawa pada abad ke-16 bukanlah fiksi belaka. Kerukunan tersebut lahir dari kecerdasan strategi dakwah Sunan Kudus yang akomodatif. Beliau mampu memadukan syariat Islam dengan sensitivitas budaya masyarakat Hindu setempat tanpa harus mengorbankan prinsip agama masing-masing.

Langkah kultural ini menjadi begitu indah karena secara biologis sapi dan kerbau berada dalam satu rumpun keluarga (Bovidae). Alhasil, substitusi tersebut tetap sah secara hukum kurban sekaligus menjadi jembatan psikologis yang merangkul hati umat lain. Keberadaan komunitas lintas iman yang hidup berdampingan secara damai ini pun valid secara historis, sebagaimana terekam dalam catatan asing sezaman seperti Suma Oriental karya penjelajah Portugis, Tomé Pires.

Bagi generasi sekarang, warisan luhur ini menjadi pengingat yang kuat di tengah era digital yang rentan terhadap gesekan dan polarisasi. Toleransi yang diajarkan oleh Sunan Kudus bukanlah toleransi pasif yang sekadar membiarkan perbedaan, melainkan tindakan aktif yang melibatkan empati mendalam untuk menjaga perasaan sesama. Pendekatan beliau saat merangkul masyarakat—seperti menampilkan sapi dari India dan menceritakan keberadaan surah Al-Baqarah—menunjukkan bahwa komunikasi budaya yang humanis jauh lebih efektif daripada pemaksaan.

Memahami ingatan kultural ini sangat penting agar masyarakat modern tidak mudah tersulut oleh isu-isu sensitif berbasis SARA, melainkan mampu melihat perbedaan sebagai kekayaan bangsa. Dalam jangka panjang, kebijakan toleransi abad ke-16 ini bahkan telah bertransformasi menjadi identitas kuliner khas, seperti soto dan sate kerbau yang kita kenal hari ini. Hal ini membuktikan bahwa kedamaian bisa berbuah manis pada banyak aspek kehidupan.

Menatap masa depan, tradisi unik dari Kudus ini harus dijadikan cetak biru (blueprint) oleh generasi penerus dalam merawat kebinekaan Indonesia. Tantangan ke depan tentu akan semakin kompleks; pergeseran nilai tidak lagi sekadar tentang pilihan antara sapi atau kerbau, melainkan bagaimana kita menghargai perbedaan pandangan, ideologi, dan latar belakang di tengah dunia yang kian global.

Strategi Sunan Kudus memberikan pelajaran berharga bahwa menjadi toleran tidak berarti kita harus kehilangan jati diri atau mengorbankan akidah, melainkan bagaimana kita mengoptimalkan ruang-ruang kebaikan demi merekatkan hubungan sosial. Selama akar toleransi dan empati ini terus dirawat serta diwariskan dari generasi ke generasi, Indonesia akan tetap berdiri kokoh.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.