apijiwa.id – Tak kalah kultural dengan mitologi luar, Nusantara juga memiliki kisah Fallen angel yang abadi hingga hari ini. Menariknya, kisah ini justru sangat populer dalam berbagai panggung pentas seni tradisional dan dikenal sebagai “Kisah Durga Ruwat”.
Namun, tunggu sebentar. Mengapa Durga harus diruwat? Apakah Dewi Durga melanggar aturan langit? Lalu, mengapa ia sering digambarkan sebagai pemimpin para iblis?
Untuk menjawabnya, kita perlu mengulas sekilas tentang sosok Dewi Durga dalam fase awalnya: sang dewi pembinasa monster. Ini adalah narasi asli Durga yang berkembang pada era Jawa Klasik pra-Majapahit.
Dewi Durga: Dari Energi Shakti hingga Sang Pembinasa Asura
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa Kuno, kekuatan ilahi digambarkan melalui konsep keseimbangan antara unsur maskulin dan feminin. Para dewa dipersonifikasikan sebagai sosok laki-laki (maskulin) yang melambangkan kesadaran atau wujud statis, namun mereka membutuhkan energi aktif untuk dapat bertindak. Energi aktif inilah yang disebut Shakti, yang dipersonifikasikan dalam wujud perempuan (feminin) sebagai pasangan atau istri sang dewa.
Ibarat lampu yang memerlukan aliran listrik untuk menyala, setiap dewa memiliki Shakti sebagai sumber kekuatannya, seperti halnya Dewa Siwa yang memiliki Shakti bernama Dewi Parwati (atau Dewi Uma). Masyarakat Jawa Kuno percaya bahwa terdapat tiga aspek di dalam diri setiap dewa. Dewi Parwati pun demikian; ia memiliki tiga perwujudan sekaligus, yaitu aspek Santa (ketenangan) yang diwujudkan sebagai Dewi Parwati sendiri, aspek Krodha atau Ugra (kemarahan) dalam bentuk Dewi Durga, serta aspek Krura (kebengisan) dalam wujud Dewi Kali.
Manifestasi kemarahan ini berkaitan erat dengan pandangan dunia Hindu era Jawa Kuno, di mana alam semesta dipandang sebagai panggung pertempuran abadi antara cahaya dan kegelapan. Pertarungan ini digambarkan lewat perseteruan antara para Dewa yang mewakili kebajikan melawan para Asura atau bangsa monster yang mewakili angkara murka. Keduanya bukan sekadar tokoh dongeng, melainkan simbol pertarungan nilai yang terjadi di dalam diri setiap manusia dan seluruh jagat raya.
Kisah paling ikonik tentang pertarungan nilai ini adalah Durga Mahisasuramardini—Durga sang pembinasa Asura. Syahdan, kahyangan diacak-acak oleh raksasa berwujud kerbau bernama Mahisasura beserta bala tentara asuranya. Para dewa kalang kabut menghadapinya, hingga akhirnya Dewa Indra dan Dewa Brahma meminta bantuan Dewa Siwa. Dewa Siwa kemudian memimpin para dewa untuk menyatukan kekuatan kosmis mereka, dan dari pancaran energi gabungan tersebut, terciptalah Durga yang lalu dibekali berbagai atribut kesaktian serta senjata oleh seluruh dewa di kahyangan.
Berbekal senjata-senjata tersebut, Durga berhasil mengalahkan Mahisasura. Itulah mengapa dalam pengarcaannya (ikonografi) era pra-Majapahit, Durga selalu digambarkan berdiri di atas mahisa (kerbau jantan) atau menjambak rambut sosok cebol yang keluar dari tubuh kerbau tersebut, sehingga ia dijuluki Durga Mahisasuramardini.
Sosok cebol ini merupakan perwujudan dari sifat asli kerakusan Mahisasura. Sifat rakus sendiri merupakan energi negatif yang sangat besar di dalam diri manusia—semakin jahat manusia, semakin besar pula energi ini. Untuk memusnahkan kehancuran tersebut, dibutuhkan energi Shakti yang kekuatannya minimal setara.
Pergeseran Citra: Munculnya Durga Ra Nini yang Bertaring
Lantas, mengapa citra Durga berubah menjadi sosok Durga Ra Nini yang bertaring dan menyeramkan?
Belum diketahui secara pasti kapan persisnya konsep Durga bertaring ini dimulai, namun para ahli menduga konsep ini populer pada era Majapahit—khususnya akhir Majapahit—meski ada pula pandangan yang menyebut penjelmaan ini sudah mulai muncul sejak era Singhasari.
Konsep Durga bertaring lahir dari perpaduan kompleks antara simbolisme agama, persepsi sosial, dan pengaruh karya sastra Jawa Klasik. Secara filosofis dalam ajaran Hindu Jawa Kuno, taring sebetulnya bukan lambang kekejaman murni, melainkan simbol kekuatan kosmis untuk menaklukkan sifat buas manusia: mengendalikan Rajas (amarah dan nafsu) serta menghancurkan Tamas (kegelapan batin dan kebodohan spiritual) demi mencapai kemurnian jiwa.
Namun, seiring berkembangnya praktik Tantra Bhairawa di akhir masa Singhasari hingga Majapahit—yang ritualnya bersifat esoteris, rahasia, dan akrab dengan simbol-simbol kematian—muncul kesan menyeramkan di kalangan masyarakat awam. Akibatnya, dewi yang dipuja dalam praktik tersebut dipersepsikan sebagai sosok yang mengerikan dan haus darah.
Persepsi publik ini dipertegas oleh karya sastra Jawa seperti Kidung Sudamala (yang juga dikenal sebagai kisah Durga Ruwat). Sastra ini mengisahkan dikutuknya Dewi Uma yang semula cantik menjadi Durga Ra Nini yang bertaring akibat sebuah kesalahan moral. Narasi-narasi sastra inilah yang secara perlahan membentuk konstruksi sosial baru, menyudutkan citra Durga menjadi figur setan yang menyeramkan, melenceng dari konsep aslinya dalam tradisi Hindu yang memandang Durga sebagai dewi pelindung.
Kisah Durga Ruwat: Dari Sastra Sudamala hingga Cermin Politik Majapahit
Dalam Kidung Sudamala, dikisahkan bahwa Dewi Uma dikutuk oleh Dewa Siwa menjadi Batari Durga karena perbuatan buruknya. Batari Durga kemudian menjelma sebagai raseksi (raksasa perempuan) pemimpin para dhemit dan bersemayam di Setra Gandamayit (kuburan kuno) untuk menebarkan penyakit serta penderitaan. Di sisi lain, ketika Pandawa sedang menjalani masa pengasingan, salah satu tokohnya, yaitu Sadewa (adik bungsu Nakula), ditakdirkan menjadi sosok yang mampu meruwat Durga.
Demi membebaskan dirinya dari kutukan, Durga pun menculik Sadewa agar bersedia meruwatnya. Melalui proses tersebut—dan atas bantuan gaib dari Dewa Siwa—Sadewa berhasil menyucikan Durga kembali menjadi Dewi Uma yang cantik dan bersinar, yang kemudian membalas jasa dengan menganugerahi Sadewa kesaktian serta berkah.
Secara simbolis, kisah ini mengajarkan bahwa kegelapan dan kekotoran batin (mala) dapat dipulihkan melalui keteguhan, kesucian, dan proses penyucian (ruwat). Oleh karena itu, lakon Sudamala sering dipentaskan dalam upacara ruwatan di Jawa sebagai simbol pembebasan dari nasib buruk dan malapetaka.
Narasi transformasi ini kemudian bergeser menjadi alegori nyata pada akhir masa Majapahit, di mana konsep Durga Ruwat menjadi sangat populer sebagai simbol harapan di tengah hancurnya tatanan sosial-politik akibat konflik internal kerajaan. Sosok Durga Ra Nini yang menyeramkan dianggap sebagai cerminan nyata dari kondisi dunia yang sedang “sakit” atau berada dalam zaman kegelapan (Kala Tida). Melalui kisah ini, masyarakat meyakini bahwa sebagaimana Durga yang bertaring bisa disucikan kembali menjadi Dewi Uma yang anggun, maka keadaan negara yang kacau pun pasti bisa dipulihkan. Tradisi ruwat dalam budaya Jawa pada akhirnya tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga dimaknai sebagai upaya pembersihan kolektif dalam konteks negara (ruwatan massal).
Sebagaimana yang ditulis oleh Aninditya Ardhana Riswari dan Mellany Octa Salsabila Sugiarto dalam jurnal Ruwat dalam Cerita Pendek Ruwat: “Pembersihan Negara” dan Konstruksi Sosial Masyarakat Jawa (Jurnal Adat & Budaya, 2025), ruwat dapat dimaknai sebagai simbol transformasi sosial. Di sini, masyarakat tidak sekadar menjalankan tradisi secara pasif, melainkan menggunakannya sebagai bentuk protes kultural dan harapan akan lahirnya perubahan yang lebih adil.
Relevansi Kontemporer: Urgensi “Ruwatan Nasional”
Kisah Durga Ruwat bukanlah sekadar dongeng masa lalu, melainkan cermin abadi bagi sebuah bangsa yang sedang mengalami “sakit” secara kolektif. Jika di akhir masa Majapahit sosok Durga bertaring menjadi simbol rusaknya tatanan sosial, maka kondisi negeri hari ini yang diwarnai oleh karut-marut kebijakan—seperti program yang dipaksakan tanpa kajian matang, kenaikan pajak yang mencekik rakyat, eksploitasi alam yang ugal-ugalan, hingga maraknya praktik jual-beli jabatan—adalah perwujudan nyata dari dominasi energi Rajas (keserakahan) dan Tamas (kegelapan batin).
Fenomena ini menunjukkan bahwa wajah “Durga” dalam konteks modern bukan lagi sosok raseksi di atas kuburan, melainkan sistem yang korup dan kebijakan yang kehilangan empati. Sistem inilah yang secara perlahan mengubah wajah Ibu Pertiwi—yang seharusnya mengayomi—menjadi sosok menakutkan yang menebar penderitaan bagi rakyatnya.
Oleh karena itu, relevansi kisah Sudamala hari ini terletak pada urgensi sebuah “Ruwatan Nasional” untuk mengembalikan marwah kepemimpinan dan keadilan. Sebagaimana Durga harus disucikan kembali menjadi Dewi Uma yang bijaksana, negara pun membutuhkan transformasi sosial dan keberanian kolektif untuk membersihkan mala (kotoran birokrasi) yang sudah akut.
Tanpa adanya upaya sungguh-sungguh untuk meruwat mentalitas penguasa dan memulihkan ekosistem yang rusak, bangsa ini akan terus terjebak dalam siklus kegelapan akhir peradaban. Ruwat dalam konteks kontemporer adalah sebuah gerakan kesadaran: sebuah tuntutan untuk perubahan yang adil, penghentian eksploitasi yang serakah, dan pengembalian kesucian amanah publik demi terciptanya kembali harmoni di Nusantara.














