Advertisement

apijiwa.id – Buku berjudul Membaca Sukarno dari Jarak Paling Dekat karya Eddi Elison ini berisi tentang cerita-cerita Sukarno dari sisi yang paling humanis. Buku ini ingin menunjukkan bahwa cerita-cerita tentang Sukarno tidak melulu soal kontroversi, ide-ide besar, dan keagungannya sebagai tokoh hebat tingkat dunia sekaligus presiden pertama Republik Indonesia. Namun, juga soal-soal keseharian Sukarno sebagai manusia biasa.

Eddi Elison meracik dan menyuguhkan sajian cerita-cerita ringan dari lapisan kehidupan Sukarno sebagai manusia biasa, yang diramu dari interaksi dan pergaulannya secara langsung di lingkungan istana sewaktu ia bertugas sebagai wartawan istana di era Presiden Sukarno.

Menurut Eddi, siapa pun yang rajin menelusuri, apalagi meneliti, pola kehidupan Sukarno—selanjutnya disebut Bung Karno—baik melalui berbagai buku yang beredar dalam berbagai bahasa atau berinteraksi langsung, dapat dipastikan dapat menarik kesimpulan bahwa polah tingkah atau kegiatan Bung Karno pada saat sebelum, ketika, dan selepas menjadi Presiden Republik Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari humanisme dan nasionalisme yang luar biasa.

Perikemanusiaan yang bersemi di sanubarinya dan nasionalisme yang mengalir di darahnya merupakan harmonisasi yang, menurut Eddi, belum bisa ditemui lagi pada sosok pemimpin-pemimpin Indonesia setelah Bung Karno kembali ke pangkuan-Nya pada 21 Juni 1970. (halaman 12).

Oleh karena itu, bagi Eddi, dengan memedomani atau mencontoh perilaku kemanusiaan Bung Karno, ini merupakan pembelajaran kepemimpinan paling efektif dan praktis bagi para pemimpin saat ini atau generasi muda calon pemimpin masa datang. Jauh lebih efektif dibandingkan  teori dari buku atau berbagai  makalah tentang kepemimpinan yang disampaikan banyak profesor atau pakar. (halaman 14).

Di sekujur buku ini, Eddi memang menyuguhkan sajian kisah-kisah ringan tentang Bung Karno, yang diramu dari pengalamannya blusukan di Istana Kepresidenan, berinteraksi langsung dengan Bung Karno, dan dari buku-buku yang telah beredar. Sehingga dengan membaca buku ini akan mengantarkan pembaca pada sosok persona Bung Karno dari sisi yang paling dekat dan akrab.

Cerita dibuka dengan sebuah kisah berjudul Hadiah Pengantin Baru yang mengisahkan pengalaman Eddi mendapatkan hadiah dari Bung Karno, berupa kesempatan menempati sebuah  apartemen di asrama atlet, setelah ia menikah. Hadiah itu disampaikan melalui Oesman, salah seorang Direktur Gelora Bung Karno. Hadiah ini tentu sangat mengesankan bagi seorang wartawan seperti Eddi. (halaman 19-22).

Bung Karno memang dikenal akrab dengan para wartawan. Ini diceritakan Eddi dalam sebuah cerita berjudul Wartawan Sebagai Mitra Juang. Di era pemerintahan Presiden Sukarno tidak ada Juru Bicara Kepresidenan resmi. Bung Karno sendiri yang meladeni wartawan. Hal itu yang membuat hubungan antara Bung Karno dan wartawan, terutama yang bertugas di istana, dekat dan menyenangkan. (halaman 94).

Fragmen kedekatan dengan wartawan antara lain terjadi saat Bung Karno usai meninjau Monumen Nasional. Saat ada penjual rambutan, Bung Karno hendak membeli 10 ikat, lalu membagikannya kepada wartawan. Tapi saat hendak membayar, ternyata ia tidak membawa uang. Ia coba pinjam ke pengawalnya, ternyata juga tak punya duit. Akhirnya seorang wartawan menalanginya dulu. (halaman 95-96).

Dalam cerita berjudul Presiden Tongpes, Eddi menceritakan bahwa pernah seorang polwan yang jadi ajudan Bung Karno, Putu Sugianitri,  juga pernah menalangi bayar rambutan. (halaman 205). Banyak kejadian serupa yang, menurut Eddi, membuat Bung Karno semakin pantas dijuluki sebagai ‘presiden termiskin’. (halaman 206).  Itu karena Bung Karno sering tidak punya uang alias tongpes (kantong kempes).

Soal tongpes ini, pernah ada cerita menyentuh, yaitu saat Bung Karno kedatangan sahabatnya, Affandi yang seorang pelukis. Eddi menceritakan ini pada cerita berjudul Kepedulian Sosial untuk Sahabat. Ketika itu, Affandi datang menemui Bung Karno untuk menjual sebuah lukisannya karena ia sedang membutuhkan uang untuk perawatan istrinya yang sakit keras. Sayangnya, Bung Karno sedang tak punya uang sama sekali.

Lalu, Bung Karno memberi Affandi sebuah pulpen merk Parker yang di batangnya terukir nama “Sukarno”. Bung Karno yakin pulpen itu bisa dijual dengan harga tinggi. Namun Affandi menolak pemberian itu, karena khawatir ia bisa dituduh pencuri milik Bung Karno.

Bung Karno kemudian menuju ke kamarnya. Beberapa menit kemudian datang membawa amplop berisi uang, lalu menyerahkannya kepada Affandi. Muka Affandi berseri-seri menerima uang itu. Ternyata, uang yang disumbangkan kepada Affandi itu diminta Bung Karno dari istrinya, Bu Fatmawati, yang punya simpanan sendiri untuk jaga-jaga bila suatu saat diperlukan. (halaman 168-169).

Masih banyak cerita-cerita menarik lainnya tentang Bung Karno yang dipotret dari sisi humanismenya (dan juga nasionalismenya), seperti kebiasaan Bung Karno minum air seduhan kacang hijau, kesukaannya makan nasi pecel Blitar racikan Mbok Rukiyem, dan lain sebagainya. Semuanya ada sebanyak 58 judul cerita.

Karena buku bunga rampai kisah, bukan sebuah buku ilmiah yang terstruktur dalam sebuah sistematika baku, maka dalam membacanya tak harus runtut dari awal sampai akhir. Pembaca bisa njujug (menuju langsung) pada judul-judul cerita yang menarik perhatian terlebih dahulu. Apalagi semua cerita disuguhkan Eddi dengan gaya tutur cerita yang ringan dan mengalir, sehingga mudah dicerna sekaligus enak dibaca. Selamat menikmati!

Data buku:
Judul               : Membaca Sukarno dari Jarak Paling Dekat
Penulis             : Eddi Elison
Penerbit           : Imania
Cetakan ke-1   : April 2019
Tebal               : 307 hlm
ISBN               : 978-602-7626-49-3

Facebook Comments Box

Penulis: Badiatul Muchlisin AstiEditor: M. A. Fathan

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.