apijiwa.id – Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Di luaran sana, banyak pamplet bertebaran di jagat maya. Kata-kata motivasi dari berbagai akun media sosial di-publish, stiker dan emoticon jatuh berhamburan di layar beranda pasca sebuah story dengan potongan kalimat diunggah ke akun media sosial: “Selamat Hari Guru.”
Di sekolah-sekolah diadakan upacara. Berbagai sambutan disampaikan, dari kepala dinas pendidikan hingga kepala sekolah. Apa yang mereka sampaikan, pasti motivasi untuk menyemangati guru yang saat ini sedang berjuang melawan kegelisahan antara tuntutan kurikulum dan capaian hasil belajar siswa. Antara mendidik dengan tegas dan mengajar dengan tekun, sedangkan tuntutan ekonomi semakin hari semakin meningkat.
Kehidupan guru, hari-hari yang dilewatinya penuh dengan suasana hati yang dilematis; modul ajar belum selesai diketik, datang lagi administrasi sekolah yang lain, kegiatan nonkurikuler dan masih banyak hal yang tidak dapat diuraikan satu per satu.
Secara sosial di suatu lembaga sekolah, guru telah dikategorikan ke dalam tiga kelompok: Guru Aparatur Sipil Negara (ASN), Guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan Guru Honor Sekolah. Kelompok-kelompok guru ini sering menjadi sekat yang memungkinkan tumbuhnya diskriminasi verbal maupun nonverbal.
Kondisi ini tidak dapat dihindari oleh sebab kecenderungan masyarakat dalam memandang status guru bukan lagi sebagai tokoh yang patut dihargai. Cara pandang masyarakat hampir selalu melihat status sosial seseorang guru dari pangkat yang melekat di badan.
Guru pada posisi tertentu lebih dihormati. Sebaliknya, guru di posisi paling rendah selalu mendapat pandangan sinis. Katakanlah guru honor akan selalu dipojokan oleh guru ASN dan guru PPPK, juga masayarakat sekitarnya.
Demikian situasi di dalam tekanan sosial tersebut telah membuat guru honor merasa terpinggir dengan keadaan emosional yang kacau. Hal ini sering berimbas pada tidak tercapainya output pendidikan seperti yang diharapkan bersama.
Setelah semua pandangan sinis ditujukan ke guru honor, apa yang terjadi? Tentu banyak hal secara inidividual terjadi. Emosi tak beraturan, kehidupan batin tidak menemukan jalan tenang menuju situasi perasaan yang sunyi.
Di posisi ini, siapa yang peduli? Tidak ada. Yang ada hanyalah bullying berkepanjangan terhadap guru honor yang nasibnya tidak dihiraukan oleh pemerintah, padahal guru bekerja untuk menjaga peradaban bangsa agar kelak bangsa ini tetap kokoh sebagaimana yang para pahlawan kita perjuangkan sebelumnya.
Menjadi guru itu pilihan. Meski dalam menentukan pilihan itu, seseorang sering terluka. Hal yang wajar. Hidup ini memang tidak mudah. Kalau pun memang ada kemudahan, itu adalah rezeki yang sudah dialamatkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membahagiakan ciptaan-Nya.
Lantas, bagaimana dengan kehidupan guru yang selalu dikeluhkan? Guru tentu sudah tahu arah hidup mana yang akan ia pilih untuk menempuh kehidupan karirnya.
Hari guru bukan lagi sekedar perayaan. Bukan lagi momentum yang disiapkan untuk saling mencurahkan isi hati. Tetapi hari guru menjadi suatu peristiwa sakral yang di mana setiap guru merefleksikan panggilan hidupnya, sejauh mana guru memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan perasaannya untuk mendidik anak-anak bangsa ini dengan kasih yang utuh dan penuh.
Pertanyaan-pertanyaan refkleksi harusnya selalu terngiang di dalam isi kepala. “Apa yang sudah saya lakukan untuk anak-anak di kelas saya? Apakah mereka senang belajar dengan saya? Apakah saya sering membentak dengan kata-kata yang tidak pantas untuk mereka dengar?”
“Kalau ada di antara mereka yang sudah terluka, sakit secara mental sebab dari peryataan saya, bagaimana cara saya menyembuhkan luka itu?”
Bukan hanya sampai di sini, masih banyak pertanyaan yang belum sempat ditanyakan pada diri ini.
Hari guru, hanya satu hari, dan terjadi hanya satu kali di dalam satu tahun. Karena itu, mari refleksikan setiap tindakan, jauhkan segala persepsi negatif, dan tumbuhkan semangat bergerak untuk menyiapkan karakter anak-anak bangsa untuk merawat peradaban bangsa sampai ke generasi berikutnya.










