Advertisement

apijiwa.id – Opini yang menyebut Prapanca sebagai agen propaganda Majapahit kini marak beredar di media sosial. Hal ini mendorong saya untuk menelusuri jati dirinya melalui tiga versi saduran Kitab Desawarnana yang ditulis oleh Prof. Slamet Muljana, I Ketut Riana, dan Mien Ahmad Rifai.

Dari penelusuran tersebut, saya menemukan sisi humanis Prapanca yang cukup mengharukan. Ia adalah mantan pejabat agama Buddha yang mengasingkan diri dari ibu kota akibat kekecewaan mendalam.

Meski hidup dalam kepiluan dan merasa asing di lingkungan perdesaan, ia berhasil melahirkan mahakarya yang menjadi rujukan sejarah primer. Sangat disayangkan jika perjuangan hidupnya kini justru direduksi oleh tuduhan sepihak sebagai sekadar alat propaganda.

Kitab Desawarnana, yang lebih dikenal sebagai Nagarakrtagama, merupakan sumber primer krusial dalam historiografi Majapahit. Meskipun penulisnya, Mpu Prapanca, kerap dituduh melakukan glorifikasi berlebihan layaknya agen propaganda, identitas aslinya justru menunjukkan sisi lain.

Nama “Prapanca” sendiri merupakan nama samaran yang secara etimologis merujuk pada pra lima, “lima kekurangan” atau hambatan batin. Sejarawan Slamet Muljana mengidentifikasi bahwa identitas asli dari penyusun kitab ini adalah Dang Acarya Nadendra.

Darah pejabat agama Buddha mengalir kuat dalam diri Nadendra, yang mewarisi posisi ayahnya di pemerintahan Majapahit. Sejak usia muda, ia memiliki ambisi besar untuk mendampingi Raja Hayam Wuruk dalam perjalanan ke berbagai pelosok negeri.

Impian itu pun terwujud; ia berkesempatan mengikuti rombongan kerajaan, yang nantinya menjadi inspirasi utama bagi lahirnya Kitab Desawarnana—sebuah catatan mendalam mengenai desa-desa yang ia kunjungi.

Sayangnya, karier Prapanca sebagai pejabat ibu kota tidak bertahan lama. Menurut tafsiran Slamet Muljana dan I Ketut Riana—yang versinya paling banyak dipercaya hingga kini—ia terpaksa pergi karena menjadi korban fitnah atau konflik dengan oknum bangsawan.

Tapi ada versi lain yang tak kalah unik dari saduran Mien Ahmad Rifai. Di sana disebutkan bahwa alasan kepergiannya lebih personal, yaitu karena sakit hati cintanya ditolak oleh putri seorang bangsawan. Penjelasan detail mengenai hal ini bisa kita temukan di bagian penutup karyanya.

“Nasib manusia memang tidak menentu, hingga karena cibiran seorang putri bangsawan, si rakawi terpaksa meninggalkan ibu kota, dan dengan penuh kecanggungan tinggal di dusun. Wajarlah  jika ia lalu menarik diri, tak mau ceria, dan bungkam seribu bahasa. Sebab buat apa menguasai seni berkasih sayang jika tidak bakal membuahkan kebahagiaan? Memang lebih baik baginya masuk ke dalam hutan di lereng gunung dan bertapa di dukuh Kamalasana yang sunyi sepi” (Desawarnana Saduran Mien Ahmad Rifai halaman 80).

Setelah meninggalkan hiruk-pikuk istana, Prapanca memilih untuk mengasingkan diri ke sebuah desa bernama Kamalasana. Mengenai lokasinya, Prof. Slamet Muljana memperkirakan Kamalasana berada di wilayah Karangasem, Bali. Namun, I Ketut Riana memberikan catatan kritis bahwa lokasi tersebut belum pasti, sebab “Kamalasana” secara harfiah berarti “singgasana teratai”—istilah yang umum digunakan untuk menyebut tempat duduk para pendeta kala itu.

Di tengah kesunyian pengasingan inilah, Prapanca melahirkan mahakarya Desawarnana (Nagarakretagama) yang secara mendetail merangkum perjalanan “blusukan” Raja Hayam Wuruk hingga potret kehidupan masyarakat Majapahit.

Selama berabad-abad sejak runtuhnya Majapahit, sejarah besar kerajaan tersebut seolah terkubur tanpa jejak. Barulah pada tahun 1894, di tengah serangan Belanda ke Puri Cakranegara, Lombok, seorang ilmuwan bernama J.L.A. Brandes berhasil menyelamatkan naskah berharga ini dari kemusnahan. Penemuan ini kemudian diperkuat dengan ditemukannya empat naskah serupa di Bali pada tahun 1978.

Bagi bangsa Indonesia, Desawarnana memiliki nilai yang tak terhingga. Setiap kali kita membicarakan kebesaran Hayam Wuruk atau sumpah Gajah Mada, sebenarnya kita sedang menikmati buah ketekunan Prapanca selama di pengasingan.

Tuduhan bahwa ia hanyalah agen propaganda pun terbantahkan, karena catatan-catatannya terbukti akurat dan sejalan dengan temuan arkeologis. Prapanca bukan sekadar penyair, ia adalah “jurnalis” pertama Nusantara yang mampu mengabadikan kejayaan masa lalu dalam untaian kata yang abadi.

Sudah saatnya kita melihat Mpu Prapanca bukan sebagai alat politik, melainkan sebagai manusia yang mampu mengubah rasa sakitnya menjadi warisan berharga bagi masa depan. Karyanya membuktikan bahwa tulisan yang lahir dari ketulusan akan tetap abadi, meski sempat terkubur berabad-abad sebelum akhirnya ditemukan kembali.

Melalui kesunyian di Kamalasana, ia berpesan bahwa kebesaran sebuah bangsa harus dicatat dengan jujur, terlepas dari segala risiko yang dihadapi penulisnya.

Sebagai bentuk apresiasi, beberapa waktu lalu saya memperkenalkan sosok Prapanca muda dalam wujud kartu pos kartun pada sebuah eksibisi di Jakarta Selatan. Melalui visual Nadendra yang masih aktif di ibu kota Majapahit, saya ingin memperkenalkan sejarah dengan cara yang lebih ringan.

Tujuannya sederhana: agar kita tidak melupakan kehebatan leluhur dan terus menjaga jati diri bangsa dengan cara terus berkarya serta meneladani kebaikan mereka.

Facebook Comments Box

Penulis: Ari Tri WinarnoEditor: Badiatul Muchlisin Asti

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.