apijiwa.id – Sebanyak 400 pengurus masjid dari berbagai daerah mengikuti kegiatan acara “Sharing Vision Masjid Peradaban” di Masjid Salman ITB pada Sabtu (14/2/2026). Fokus utama pertemuan ini adalah mendiskusikan tata kelola masjid yang memberdayakan dan berkualitas. Dengan menghadirkan pemateri dari pengelola masjid yang telah sukses melayani jemaah, acara ini diharapkan mampu mendorong terciptanya ekosistem masjid yang lebih dicintai oleh umat.
Diinisiasi Rumah Amal Salman dab Institut Teknologi Bandung (ITB), forum ini menjadi ruang dialog untuk berbagi ide pengelolaan masjid yang inovatif antar-pengurus di Indonesia. Inisiatif ini berangkat dari kesadaran bahwa masjid memiliki peran strategis yang melampaui tempat ibadah semata; ia merupakan pusat peradaban umat yang menyatukan aspek spiritual, kecerdasan intelektual, serta interaksi sosial.
Menurut Syachrial selaku Ketua Pelaksana, forum ini dirancang melampaui sekadar pertukaran pengalaman, melainkan sebagai wadah untuk membangun jejaring dan kolaborasi strategis antar-masjid. Ia berharap inisiatif yang bertepatan dengan momentum datangnya Ramadan ini dapat memicu motivasi sekaligus memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat luas.
Lebih lanjut, Syachrial menekankan pentingnya Masjid Salman ITB sebagai masjid kampus untuk memperluas jangkauan kerja samanya demi meningkatkan dampak sosial. Melalui sinergi kepemimpinan dan gagasan dari berbagai masjid inspiratif di daerah, diharapkan standar profesionalisme dalam pengelolaan masjid di Indonesia akan terus meningkat.
“Kami ingin momen Sharing Vision ini bisa menjaring potensi-potensi kolaborasi baik dari pemateri inspiratif dan menjaring programnya yang bisa berguna untuk umat, ” tegasnya.
Acara ini mengusung visi besar tentang peran masjid sebagai pusat kekuatan spiritual, intelektual, dan sosial. Untuk membedah tema tersebut, delapan praktisi dari berbagai masjid inspiratif di Indonesia dihadirkan sebagai pembicara. Sederet nama besar turut serta, mulai dari Haidar Muhammad Tilmitsani (Masjid Jogokariyan), Anggy F. Sulaiman (Masjid Sejuta Pemuda), KH. Fahrudin (Masjid Daarut Tauhid), hingga K.H. Zahrudin Sultoni (Masjid Al Azhar Jakarta).
Selain itu, diskusi ini semakin kaya dengan perspektif dari Mucharom Noor (Masjid Nurul Ashri), KH. Muhammad Nur Hasan (Masjid Kapal Munzalam), Prastowo M. Wibowo (Masjid Raya Bintaro Jaya), serta Syarif Hidayat yang mewakili tuan rumah, Masjid Salman ITB.
Prastowo M. Wibowo, perwakilan dari Masjid Raya Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, menekankan bahwa eksistensi masjid tidak boleh hanya terbatas pada dakwah melalui mimbar. Menurutnya, pengurus masjid wajib terjun langsung ke masyarakat agar syiar agama yang dilakukan dapat memberikan dampak nyata yang dirasakan langsung oleh umat.
“Masjid sendiri sebaiknya memakai tagline Masjid Keluarga, di mana masjid yang ada bisa menarik seluruh anggota keluarga, ayah, ibu dan anak bisa mendatangi masjid. Mengapa mesti tagline Masjid Keluarga karena kita butuh kaderisasi untuk melanjutkan perjuangan kita. Karenanya, butuh saling support antar masjid agar tercipta masjid yang nyaman dan bermanfaat bagi umat,” jelasnya.
Menurut Prastowo, masjid harus hadir sebagai solusi nyata bagi lingkungan sekitarnya, terutama dalam mendampingi kaum duafa. Program pemberdayaan ekonomi melalui pemberian modal usaha perlu dibarengi dengan bimbingan spiritual agar kebutuhan lahir dan batin umat terpenuhi secara seimbang.
Di sisi lain, Muhammad Nur Hasan dari Masjid Kapal Munzalan menyoroti pentingnya SDM berkualitas dalam menggerakkan masjid. Ia menegaskan bahwa masjid masa kini harus multifungsi dan menjadi tempat terbaik untuk membangun kemaslahatan umat. Untuk mencapai visi tersebut, diperlukan pengelola yang andal dan memahami seluk-beluk manajemen masjid yang modern dan efektif.
“Masjid semestinya bisa memberdayakan masyarakat di sekitarnya dengan program yang dirancang secara baik. Masjid Kapal Munzalan telah membuktikan hal itu, sehingga dalam waktu singkat dapat menarik minat umat, karena kemanfaatannya dapat dirasakan umat dalam berbagai hal,” katanya.
Forum Sharing Vision Masjid Peradaban ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya gerakan nyata, bukan hanya berhenti pada percakapan. Inilah langkah awal untuk bersama-sama memakmurkan masjid dan mempertegas perannya sebagai jantung penggerak masyarakat.













