apijiwa.id – Kehadiran Bandung Food Centre (BFC) yang berlokasi di Al Wakrah, Qatar, menjadi angin segar sekaligus peluang emas bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di tanah air yang ingin melebarkan sayap ke pasar internasional. Supermarket ini digagas oleh Sinta Tursini Turna, seorang perempuan inspiratif yang melihat besarnya kerinduan dan kebutuhan diaspora Indonesia di Qatar terhadap produk-produk kampung halaman.
Pendirian BFC bermula dari inisiasi Komunitas Baraya Sunda Qatar, sebuah wadah berkumpulnya warga suku Sunda di negara tersebut. Komunitas ini memiliki visi kuat untuk membuka usaha yang mampu memberikan manfaat nyata bagi sesama diaspora Indonesia. Meski pada awalnya dikelola bersama oleh 10 orang, dalam perjalanannya menyisakan tiga orang yang benar-benar berkomitmen penuh untuk membesarkan usaha ini. Sinta sendiri turun langsung memegang kendali operasional sehari-hari.
Dalam mengelola BFC, Sinta bekerja sama dengan seorang pemilik toko lokal, namun beroperasi di kota yang berbeda. Secara hukum, legalitas bisnis BFC terdaftar atas nama Sinta pribadi. Hal ini dikarenakan regulasi setempat melarang para suami yang berstatus pekerja formal di Qatar untuk membuka usaha sampingan. Untuk mematuhi hukum Qatar, bisnis ini juga menggandeng sponsor lokal.
“Jadi, bisa dikatakan pemilik resminya adalah warga asli Qatar, sementara saya bertindak sebagai co-owner,” jelas Sinta saat berbincang dengan apijiwa.id di Kota Bandung beberapa waktu lalu.
Hingga kini, BFC telah berhasil menjembatani masuknya berbagai produk asli Indonesia ke pasar Qatar. Supermarket ini menyediakan berbagai kebutuhan pokok diaspora, mulai dari gula aren, bumbu masak, tepung tapioka, hingga sayuran segar seperti genjer dan kangkung. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja sama jangka panjang yang terjalin dengan Komunitas Perempuan Pengusaha Kepala Keluarga (Pekka) yang dipimpin oleh Tini Gustini.

“Ini adalah peluang bisnis yang sangat potensial untuk dikembangkan karena tidak hanya menghasilkan profit yang menjanjikan, tetapi juga menjadi kesempatan emas bagi produk UMKM Indonesia untuk mendunia,” ungkap Sinta.
Menariknya, pasar BFC tidak hanya terbatas pada komoditas pangan. Sinta menceritakan pengalaman unik saat minyak kayu putih yang awalnya dibawa untuk kebutuhan diaspora justru diborong habis oleh warga lokal Qatar. Selain itu, berbagai kuliner khas seperti tape asli Purwakarta, kelapa serundeng, sambal terasi, hingga rengginang juga laris manis di sana.
Sinta selalu memanfaatkan momen pulang ke Indonesia untuk berburu produk yang sedang tren di tanah air untuk kemudian dipasarkan di Qatar. “Tentu saja saya harus jeli membaca situasi pasar. Produk mana yang paling diminati dan dibutuhkan, itulah yang menjadi prioritas kami,” tambahnya mengenai strategi bisnis BFC.
Sebagai sebuah supermarket fisik, BFC sebenarnya telah merencanakan ekspansi ke sistem penjualan online melalui marketplace lokal. Namun, rencana tersebut harus tertunda akibat situasi geopolitik di Timur Tengah yang sempat memanas. Ketegangan kawasan menyebabkan jalur pasokan logistik terlambat dan biaya operasional membengkak. Sebagai solusinya, Sinta menerapkan sistem pemesanan personal.
“Konsumen yang membutuhkan produk biasanya menghubungi saya melalui WhatsApp atau Instagram. Setelah barang disiapkan dan pembayaran ditransfer, mereka tinggal mengambilnya di toko. Namun, banyak juga pelanggan yang langsung datang ke BFC dan bertransaksi tunai,” tuturnya.
Berdiri sejak tahun 2020 di tengah tantangan pandemi COVID-19, BFC diresmikan langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Qatar kala itu, Ridwan Hasan. Setelah lima tahun menjabat, posisi duta besar kini telah diteruskan oleh pejabat baru, Pak Guruh. Sinta mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah biaya logistik.
“Jujur saja, mendatangkan barang dari Indonesia memakan biaya yang relatif mahal karena kami masih menggunakan jalur pesawat kargo,” aku Sinta.
Meski menghadapi tantangan logistik, daya tarik BFC terbukti sangat kuat. Pelanggannya tidak hanya terbatas pada diaspora Indonesia, melainkan juga warga negara Malaysia dan Filipina. Lokasi Al Wakrah yang strategis membuat supermarket ini mudah diakses—hanya berjarak 30 menit dari Doha, serta dekat dengan kawasan Al Khor dan Dukhan. Pada akhir pekan, BFC kerap menjadi titik kumpul favorit karena menyediakan area restoran khas Indonesia.
Bahkan, gaung BFC melintasi batas negara. Diaspora Indonesia yang tinggal di Dammam, Arab Saudi—wilayah yang berbatasan langsung dengan Qatar—rela menempuh perjalanan darat selama tiga jam demi berbelanja di BFC.
“Banyak dari mereka yang memborong tepung tapioka, sagu, hingga sambal. Pelanggan asal Sunda biasanya membeli tapioka untuk membuat cireng, sedangkan pelanggan asal Palembang menggunakannya sebagai bahan baku pempek,” kata Sinta sembari tersenyum.
Di balik kesuksesan tersebut, Sinta menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi ketat Pemerintah Qatar, khususnya mengenai tanggal kedalwarsa produk. Saking ketatnya pengawasan, BFC sempat dua kali terkena denda masing-masing sebesar 3.700 Riyal Qatar (QAR). “Kalau untuk urusan perizinan dan dokumen legalitas usaha, semuanya sudah saya tuntaskan sejak awal bisnis berdiri,” tegasnya.
Menatap masa depan, Sinta merancang strategi logistik baru dengan menjajaki pengiriman barang menggunakan jalur laut atau kapal kontainer. Ia berencana melakukan sistem penanggungan biaya bersama (sharing cost) dengan pemilik toko lain demi memangkas ongkos kirim. Rencana ini akan direalisasikan segera setelah situasi politik di Timur Tengah kembali kondusif agar pengiriman massal dapat berjalan aman.
“Kita tahu beberapa waktu lalu situasi sempat tidak menentu karena adanya konflik, yang membuat orang-orang membatasi aktivitas keluar rumah. Semoga di tahun 2027 kondisi jauh lebih aman dan target kami bisa tercapai,” harap Sinta optimis.
Komitmen Sinta terhadap kemajuan UMKM dibuktikannya setiap kali ia pulang ke Bandung. Ia selalu meluangkan waktu untuk mendatangi langsung pusat-pusat produksi guna memotong mata rantai distribusi yang terlalu panjang. Langkah ini diambil agar keuntungan yang diterima oleh pengrajin lokal bisa lebih optimal.
“Intinya, saya ingin memajukan UMKM Indonesia. Namun tentu saja, standar kemasan dan kualitas produk harus benar-benar diperhatikan agar memenuhi kualifikasi untuk didaftarkan dan dijual di Qatar,” pungkasnya penuh semangat.












